Jakarta, Sinata.id – Pemerintah dan pelaku pasar menantikan rilis resmi data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/5/2026).
Data ini menjadi indikator awal untuk membaca arah kinerja ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Secara historis, BPS merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) triwulanan setiap awal Mei untuk periode Januari–Maret. Karena itu, publikasi kali ini akan menjadi acuan penting bagi pemerintah, investor, dan pelaku usaha dalam menilai kekuatan fundamental ekonomi domestik.
Proyeksi Pertumbuhan Tetap Solid
Sejumlah lembaga memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai sekitar 5,48 persen.
Pemerintah bahkan lebih optimistis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pertumbuhan berpotensi berada di kisaran 5,5 persen hingga 6 persen.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen,” ujarnya dalam paparan APBN KiTa.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, percepatan proyek strategis nasional, serta kinerja sektor perumahan dan manufaktur berbasis hilirisasi.
Stabilitas Ekonomi Masih Terjaga
Dari sisi makroekonomi, stabilitas dinilai masih terjaga. Inflasi sempat meningkat, namun tetap dalam kendali dengan posisi 4,76 persen secara tahunan pada Februari 2026 sebelum kembali melandai.
Sektor keuangan domestik juga menunjukkan ketahanan. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih dapat dikelola meski sentimen global cenderung berhati-hati (risk-off).
Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten.
Investasi dan Perdagangan Jadi Sorotan
Dari sisi investasi, realisasi pada kuartal I 2026 mencapai Rp498,7 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target tahunan, tumbuh 7,2 persen secara tahunan.
Investasi asing tetap kuat dengan nilai Rp248,8 triliun, meski menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Sektor hilirisasi, khususnya logam dasar, masih mendominasi, diikuti peningkatan investasi di sektor jasa seperti pusat data.
Di sisi perdagangan, Indonesia masih mencatat surplus pada awal 2026. Namun, nilainya menurun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring meningkatnya impor.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.