Jakarta, Sinata.id — Di hadapan forum ekonomi nasional, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran terbuka kepada kalangan pengusaha yang kerap meminta restrukturisasi kredit. Pesannya, keringanan utang bukan jalan pintas yang boleh dijadikan kebiasaan.
Pernyataan itu disampaikan dalam suasana formal, namun nadanya terasa seperti alarm. Prabowo menilai praktik permintaan penjadwalan ulang utang yang berulang justru mencerminkan ketergantungan yang berbahaya bagi iklim usaha dan keadilan ekonomi.
“Kalau pengusaha besar bisa dapat haircut atau perpanjangan, masa yang kecil tidak kita perhatikan?” ucap Prabowo, dikutip Jumat (13/2/2026).
Kritik tersebut bukan sekadar retorika. Menurut Prabowo, negara tak boleh hanya menjadi penyangga ketika korporasi besar kesulitan, sementara pelaku ekonomi kecil berjuang tanpa bantalan yang sama. Ia menekankan pentingnya membangun sistem pembiayaan yang tidak timpang antara pemilik modal besar dan kelompok produktif di akar rumput.
Dalam pidatonya, presiden mengaitkan isu ini dengan program pembiayaan jangka panjang untuk sektor kecil, termasuk skema koperasi. Bagi pemerintah, kelonggaran bukanlah “penghapusan tanggung jawab”, melainkan ruang untuk tumbuh dan tetap harus dikembalikan.
Di tengah kritiknya, Prabowo juga menyelipkan pengakuan personal. Ia mengatakan pernah berada di posisi yang sama, sebagai pengusaha yang meminta perpanjangan pembayaran. Dengan nada reflektif, ia menyebut itu sebagai “minta belas kasihan perpanjangan,” sambil menegaskan bahwa pengalaman tersebut justru mengajarkannya tentang batas yang sehat antara bantuan dan ketergantungan.
“Saya pernah ada di situ,” ujarnya. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.