MENU
Purbaya: Pelemahan IHSG dan Rupiah Dipicu Sentimen Negatif, Bukan Kris...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Purbaya: Pelemahan IHSG dan Rupiah Dipicu Sentimen Negatif, Bukan Krisis Ekonomi

J Editor : Jansen Siahaan | 06 Jun 2026 | 20:02 WIB
Purbaya: Pelemahan IHSG dan Rupiah Dipicu Sentimen Negatif, Bukan Krisis Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (liputan6)

Jakarta, Sinata.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Menurut Purbaya, tekanan yang terjadi di pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dan persepsi negatif yang berkembang di masyarakat serta kalangan investor. Ia menilai persepsi tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan data ekonomi yang ada.

"IHSG saat ini telah terkoreksi sekitar 38 persen dari titik tertingginya. Kendala utama yang kita hadapi adalah persepsi negatif terhadap ekonomi Indonesia yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi riil," ujar Purbaya di Kompleks DPR/MPR, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran pelaku pasar setelah IHSG mengalami tekanan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup turun 245,01 poin atau 4,2 persen ke level 5.594,77.

APBN dan Ekonomi Dinilai Tetap Sehat

Purbaya menjelaskan bahwa salah satu persepsi yang berkembang adalah anggapan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sedang mengalami tekanan berat. Padahal, menurutnya, indikator fiskal masih menunjukkan kondisi yang terkendali.

Hingga akhir Mei 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.365,4 triliun.

Sementara itu, keseimbangan primer masih mencatatkan surplus Rp58,6 triliun, yang menunjukkan kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal nasional.

"APBN kita dalam kondisi baik dan ekonomi tetap tumbuh. Aktivitas ekonomi di berbagai daerah juga masih meningkat. Namun ketika muncul narasi bahwa ekonomi akan mengalami kehancuran, sebagian masyarakat dan investor ikut terpengaruh," kata Menkeu.

Pelemahan Rupiah Bukan Tanda Krisis 1998

Selain pasar saham, sentimen negatif juga disebut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup di level Rp18.010 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Meski demikian, Purbaya menegaskan kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan krisis ekonomi 1997-1998. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dengan kondisi fiskal yang tetap terjaga.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.