Jakarta, Sinata.id – Investor legendaris asal Amerika Serikat (AS), Ray Dalio, memperingatkan bahwa dunia saat ini berada di ambang perang modal, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasar keuangan global.
“Kita berada di ambang batas. Belum sepenuhnya terjadi, tetapi kita cukup dekat dengan perang modal, dan sangat mudah untuk melewati batas tersebut karena adanya ketakutan bersama,” ujar Dalio saat berbicara kepada CNBC International dalam ajang World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa, dikutip Rabu (4/2/2026).
Dalio menyoroti meningkatnya eskalasi geopolitik, termasuk kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kerap menggunakan tarif dan tekanan ekonomi sebagai alat negosiasi politik. Salah satu isu yang disinggung adalah ketegangan terkait wacana Amerika Serikat untuk memperluas pengaruhnya atas wilayah Greenland, yang merupakan bagian dari Denmark.
Ketakutan Pemegang Modal Global
Menurut Dalio, muncul kekhawatiran di kalangan pemegang aset berdenominasi dolar AS di Eropa terkait potensi sanksi ekonomi. Di sisi lain, AS juga menghadapi kekhawatiran serupa, yakni berkurangnya arus modal dan perdagangan dari Eropa akibat memburuknya hubungan politik.
“Modal dan uang sangat penting. Kita mulai melihat penerapan kontrol modal terjadi di berbagai belahan dunia, dan siapa yang akan terdampak berikutnya masih menjadi pertanyaan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa situasi saat ini memang belum bisa disebut sebagai perang modal sepenuhnya, namun merupakan kondisi yang secara logis mengarah ke sana.
Pelajaran dari Sejarah
Dalio mengingatkan bahwa secara historis, perang modal kerap muncul menjelang atau bersamaan dengan konflik besar. Sebagai contoh, sebelum AS terlibat dalam Perang Dunia II, pemerintah AS memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Jepang sebagai bentuk eskalasi konflik.
“Kita bisa membayangkan situasi yang serupa di dunia saat ini, misalnya antara AS dan China, atau dalam relasi antara Amerika dan Eropa. Ketidakseimbangan perdagangan pada dasarnya juga mencerminkan ketidakseimbangan modal, dan modal dapat dijadikan senjata,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa lembaga-lembaga besar seperti bank sentral dan dana kekayaan negara dinilai telah mulai melakukan persiapan untuk menghadapi potensi kontrol modal dan valuta asing.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.