Teheran, Sinata.id – Nilai tukar rial Iran kembali mencetak rekor terendah sepanjang sejarah, menandai krisis ekonomi yang kian dalam dan berdampak langsung pada stabilitas pasar, daya beli masyarakat, serta iklim bisnis domestik.
Pelemahan mata uang ini juga menjadi pemicu meluasnya demonstrasi sejak Desember 2025.
Berdasarkan data kurs Selasa (13/1/2026), 1 rial Iran kini bahkan bernilai lebih rendah dari Rp1, yakni sekitar Rp0,015. Sementara terhadap dolar Amerika Serikat, tekanan semakin tajam dengan US$1 setara sekitar 1.137.500 rial. Kondisi ini menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan depresiasi mata uang terdalam di dunia.
Anjloknya rial mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Iran. Inflasi tinggi, menyusutnya cadangan devisa, serta krisis kepercayaan terhadap mata uang domestik membuat aktivitas ekonomi berada dalam tekanan berat. Rial tidak lagi efektif sebagai alat penyimpan nilai, baik bagi rumah tangga maupun pelaku usaha.
Mengutip data Refinitiv, pada akhir 2025 nilai tukar US$1 masih berada di kisaran 45.000 rial. Namun memasuki awal 2026, tepatnya pada perdagangan Rabu (14/1/2026), kurs melonjak drastis ke sekitar 1,04 juta rial per dolar AS, atau melemah sekitar 2.388 persen dalam waktu kurang dari satu tahun.
Lonjakan ekstrem ini berdampak langsung pada biaya impor, harga bahan baku industri, obat-obatan, dan barang konsumsi, yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Tekanan nilai tukar tidak hanya terjadi terhadap dolar AS. Dibandingkan rupiah Indonesia, pelemahan rial juga signifikan. Pada penutupan akhir 2025, Rp1 setara sekitar 45.215 rial, namun per 14 Januari 2026 melemah menjadi 59.663 rial per rupiah, atau terdepresiasi sekitar 31,95 persen.
Data ini menunjukkan bahwa krisis nilai tukar Iran tidak bersifat parsial, melainkan menyeluruh terhadap mata uang global dan negara berkembang (emerging markets).Secara nominal, pelemahan ini tampak menguntungkan bagi pemegang mata uang asing. Dengan kurs terbaru, Rp1 juta setara sekitar 59,6 miliar rial, naik tajam dibandingkan akhir 2025 yang hanya sekitar 45,2 miliar rial.
Bagi sektor pariwisata dan perdagangan, pelemahan rial secara teori membuat Iran tampak “murah” bagi wisatawan asing. Namun ketidakstabilan ekonomi, gejolak sosial, serta risiko keamanan membuat potensi tersebut sulit dimanfaatkan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.