Yerusalem, Sinata.id – Ketegangan di jantung Kota Tua kembali memanas. Kompleks Masjid Al-Aqsa dilaporkan mengalami lonjakan aktivitas pemukim Israel sepanjang Januari, memicu kekhawatiran baru akan berubahnya peta sensitif di salah satu situs paling suci di dunia.
Dikutip Selasa (3/2/2026), pemerintah Provinsi Yerusalem mengungkapkan, sedikitnya 4.397 pemukim Israel tercatat memasuki kawasan Al-Aqsa selama sebulan terakhir. Angka itu disebut jauh lebih tinggi dibanding periode sebelumnya dan dinilai bukan sekadar kunjungan biasa.
Menurut otoritas Palestina, peningkatan ini menunjukkan pola yang terencana. Mereka menilai langkah tersebut sebagai upaya sistematis untuk mengikis status quo yang telah lama mengatur penggunaan kawasan suci itu, sekaligus menantang kedudukan historis dan hukum Al-Aqsa sebagai tempat ibadah umat Islam.
“Ini bukan peristiwa terpisah. Ada pola yang jelas untuk memaksakan perubahan realitas di lapangan,” demikian pernyataan resmi Pemerintah Provinsi Yerusalem.
Dikawal Aparat, Didampingi Pejabat
Laporan itu menyebutkan, sejumlah pemukim masuk ke kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan ketat aparat keamanan Israel. Dalam beberapa kesempatan, rombongan bahkan didampingi pejabat tinggi, termasuk Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, tokoh sayap kanan yang kerap menuai kontroversi.
Tekanan terhadap kawasan suci itu semakin besar dengan masuknya 7.868 orang melalui jalur izin kunjungan wisata, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Palestina, WAFA. Otoritas setempat menilai skema tersebut membuka ruang lebih luas bagi aktivitas yang memicu ketegangan.
Ritual, Selebaran, dan “Sujud Penuh”
Selama berada di dalam kompleks, sejumlah pemukim dilaporkan menyebarkan selebaran berisi doa-doa Yahudi, menari, hingga melakukan ritual yang dikenal sebagai “sujud penuh.”
Tindakan ini dianggap melanggar kesepakatan lama yang mengatur batasan ibadah di kawasan tersebut.
“Yang terjadi sekarang adalah pelanggaran terbuka terhadap aturan yang selama ini menjaga keseimbangan,” tegas otoritas Yerusalem dalam laporannya.
Ancaman Pembatasan Ramadan
Di tengah situasi ini, Knesset disebut tengah mendorong kebijakan yang berpotensi membatasi akses jamaah Muslim ke Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan. Wacana tersebut langsung memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Yerusalem Timur.
Otoritas Palestina menegaskan, seluruh rangkaian kejadian itu mencerminkan upaya nyata untuk memaksakan klaim kedaulatan Israel atas Masjid Al-Aqsa dan mengubah realitas historis yang selama ini berlaku.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.