MENU
Rupiah Anjlok ke Rp17.300 per Dolar AS, Pemerintah Ungkap Penyebab dan...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Anjlok ke Rp17.300 per Dolar AS, Pemerintah Ungkap Penyebab dan Sikap BI

N Editor : Nida | 23 Apr 2026 | 13:20 WIB
Rupiah Anjlok ke Rp17.300 per Dolar AS, Pemerintah Ungkap Penyebab dan Sikap BI
Foto uang Rupiah dan dollar (Istimewa)

Jakarta, Sinata.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan melemah ke level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya gejolak global yang turut memengaruhi mata uang di berbagai negara kawasan.

Pemerintah menilai kondisi ini bukan hanya terjadi pada rupiah, melainkan juga dialami sejumlah mata uang regional lainnya akibat ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan pasar keuangan, namun tidak akan merespons secara reaktif terhadap fluktuasi harian rupiah.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Penyebabnya gejolak global, jadi kita pantau terus,” ujarnya di Jakarta.

Rupiah Tertekan di Pasar Spot

Pada perdagangan pagi hari, rupiah sempat dibuka melemah di level Rp17.300 per dolar AS, bahkan terus tertekan hingga Rp17.303 atau turun sekitar 0,71 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Kondisi ini mencerminkan tekanan kuat dari pasar global, termasuk sentimen geopolitik dan arah kebijakan ekonomi negara besar yang masih belum stabil.

BI dan Pemerintah Tetap Pantau Stabilitas

Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan utama otoritas moneter. Dalam hal ini, Bank Indonesia terus melakukan langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan pasar dan mengendalikan volatilitas rupiah.

“Tidak bisa setiap hari kita reaktif. Itu tugas Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas dengan kebijakannya,” tambah Airlangga.

Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Pemerintah juga menyoroti bahwa ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang mendorong fluktuasi mata uang, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.(A07)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.