Jakarta, Sinata.id — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan di pasar spot dalam dua hari terakhir, bertepatan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate atau suku bunga acuan sebesar 4,75%. Penguatan ini terjadi di tengah dinamika pasar global dan upaya otoritas moneter menstabilkan perekonomian nasional.
Pada penutupan perdagangan hari ini, kurs rupiah menutup lebih kuat di kisaran Rp16.873 per dolar AS, meskipun sempat mengalami tekanan di awal sesi perdagangan pagi tadi. Angka tersebut mencerminkan penguatan sekitar 0,4% dari posisi sebelumnya, menandai run positif kedua secara beruntun pekan ini.
Penguatan rupiah ini terjadi tak lepas dari keputusan BI menahan tingkat suku bunga, yang dipandang oleh pelaku pasar sebagai upaya untuk merangkul stabilitas kurs di tengah gejolak global yang masih tinggi. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Februari 2026, bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga tersebut untuk menjaga inflasi tetap dalam target dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini dilandasi oleh kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, termasuk fluktuasi arus modal asing dan tekanan nilai tukar yang sebelumnya sempat melemah. Pernyataan Perry menggarisbawahi pentingnya data-dependent policy, sambil terus mengamati peluang untuk pelonggaran moneter jika kondisi memungkinkan.
“Dalam dua hari ini kami berdiskusi untuk tetap mempertahankan BI-Rate di level yang sama, sekaligus memantau peluang pelonggaran jika prakiraan inflasi dan stabilitas kurs menunjukkan tanda-tanda perbaikan,” ujar Perry, dikutip Jumat (20/2/2026).
Namun, meski ada penguatan, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini sedikit tertekan, tercatat mengalami penurunan kumulatif sekitar 0,2%, seiring dengan sinyal dari sebagian pelaku pasar yang berharap BI akan mengevaluasi ruang pelonggaran moneter lebih lanjut. Momentum ekonomi domestik — seperti persiapan mudik Ramadan dan Idul Fitri — diperkirakan akan menjadi faktor tambahan dalam dinamika nilai tukar dalam beberapa pekan ke depan.
Sementara itu, data BI menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun transaksi berjalan kembali mencatat defisit pada kuartal IV-2025 setelah sebelumnya sempat mengalami surplus. Ketergantungan pada inflow transaksi modal dan finansial menjadi salah satu pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga saat ini.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.