Ia menilai potensi pelebaran defisit fiskal mendekati 3 persen menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran pasar.
Selain itu, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8 hingga 6 persen juga dianggap terlalu optimistis di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.
“Optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut dinilai terlalu tinggi di tengah kondisi global yang masih penuh tekanan dan kemungkinan berlanjut hingga 2027,” ujarnya.
Upaya BI Dinilai Belum Efektif
Bank Indonesia (BI) disebut telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga melakukan operasi pasar dengan menjual surat utang negara senilai Rp2 triliun hingga Rp4 triliun.
Namun demikian, langkah tersebut dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penguatan rupiah.
“Berbagai langkah sudah dilakukan oleh Bank Indonesia maupun pemerintah, tetapi rupiah masih belum mampu menguat secara signifikan,” kata Ibrahim.
Ketegangan Global Perburuk Tekanan
Selain faktor domestik, ketidakpastian geopolitik global juga menjadi pemicu pelemahan rupiah. Salah satunya terkait negosiasi perdamaian antara AS dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan kepastian.
Persoalan program nuklir Iran dan ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi hambatan utama dalam proses perundingan tersebut.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik berpotensi meningkatkan inflasi global. Kondisi ini membuka peluang bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ibrahim memperkirakan The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin sampai akhir tahun apabila tekanan inflasi global terus meningkat. (kompas/A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.