MENU
Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pem...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

N Editor : Nida | 07 Apr 2026 | 16:39 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Ilustrasi uang dollar dan rupiah (Istimewa)

Jakarta, Sinata.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 0,42 persen ke level Rp17.105 per dolar AS di pasar spot.

Pelemahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan utama berasal dari eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, terkait pembukaan Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar di pasar global.

Menurut Ibrahim, gangguan terhadap jalur pelayaran tanker minyak dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat pasokan energi dunia dan meningkatkan premi risiko di pasar minyak. Harga Minyak Naik, Risiko Global Meningkat Situasi geopolitik yang belum mereda membuat harga minyak dunia melonjak tajam, bahkan sempat menembus kisaran 113 dolar AS per barel—jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi ini memicu efek berantai, mulai dari peningkatan inflasi global hingga ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Investor kini menunggu rilis data inflasi dari Amerika Serikat sebagai acuan penting untuk menentukan arah pasar selanjutnya. Dampak ke Ekonomi Indonesia Tekanan eksternal turut berdampak pada kondisi domestik. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar beban subsidi energi dan kompensasi pemerintah.

Selain itu, ruang fiskal dinilai semakin terbatas seiring meningkatnya kebutuhan anggaran untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Para ekonom menilai skema subsidi energi saat ini masih memiliki celah, terutama karena konsumsi oleh kelompok mampu belum sepenuhnya terkontrol. Tantangan Pemerintah di Tengah Tekanan Global Di tengah situasi ini, pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas harga energi dan mempertahankan daya beli masyarakat.

Penyesuaian harga bahan bakar minyak dinilai bukan solusi jangka pendek, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih.

Sebagai alternatif, efisiensi belanja dan realokasi anggaran menjadi langkah yang lebih realistis untuk menjaga stabilitas fiskal.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.