MENU
Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dollar AS, Harga Kebutuhan Diprediksi N...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dollar AS, Harga Kebutuhan Diprediksi Naik

J Editor : Jansen Siahaan | 16 May 2026 | 11:46 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dollar AS, Harga Kebutuhan Diprediksi Naik
Ilustrasi nilai tukar Rupiah. (selfd)

Teuku Riefky menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi global, konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pasar keuangan tidak stabil. Investor asing disebut mulai menarik modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara dari sisi domestik, kondisi fiskal Indonesia ikut menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional karena tingginya belanja negara dan tekanan terhadap pendapatan pemerintah.

Situasi tersebut memicu arus modal keluar atau capital outflow yang semakin menekan nilai tukar rupiah.

Langkah Bank Indonesia dan Pemerintah

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah intervensi pasar, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN), penguatan likuiditas perbankan, serta pengawasan pembelian dollar AS.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pengawasan diperketat terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dollar tinggi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah.

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih lebih baik dibanding krisis moneter 1998 karena fundamental ekonomi dinilai tetap kuat.

“Tidak perlu panik karena fondasi ekonomi kita masih bagus dan pemerintah terus menyiapkan langkah stabilisasi,” ujar Purbaya.

Pemerintah juga disebut tengah menyiapkan penguatan pasar obligasi atau bond market guna menjaga kepercayaan investor dan mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Ancaman Inflasi dan PHK

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sarman Simanjorang, mengatakan pelemahan rupiah mulai memengaruhi psikologis pelaku usaha.

Menurutnya, apabila kondisi ini berlangsung lama, pelaku usaha berpotensi menaikkan harga barang, mengurangi produksi, hingga melakukan efisiensi tenaga kerja.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya inflasi serta melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. (A02)

 

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.