MENU
Rupiah Menguat di Tengah Tekanan IHSG, Dolar AS Terpuruk ke Level Tere...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Menguat di Tengah Tekanan IHSG, Dolar AS Terpuruk ke Level Terendah

J Editor : Jansen Siahaan | 28 Jan 2026 | 11:49 WIB
Rupiah Menguat di Tengah Tekanan IHSG, Dolar AS Terpuruk ke Level Terendah
Ilustrasi mata uang Rupiah. (antara)

Koreksi tajam IHSG turut berdampak pada kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia yang menyusut menjadi sekitar Rp15.217,74 triliun.

Faktor Global dan Domestik

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah dipengaruhi fokus pelaku pasar terhadap hasil pertemuan kebijakan The Federal Reserve yang diumumkan pada Rabu (28/1/2026).

“Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah sebelumnya melakukan tiga kali pemotongan berturut-turut,” ujar Ibrahim.

Selain itu, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell turut menimbulkan kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS dari tekanan politik.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti tantangan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026. Meski target pembiayaan utang neto dalam RAPBN 2026 tercatat Rp832,21 triliun, kebutuhan pembiayaan bruto diperkirakan mencapai Rp1.650 triliun.

Risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) dinilai meningkat seiring memendeknya rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM) dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi sekitar 7,7 tahun pada 2026.

Dolar AS Tertekan

Penguatan rupiah juga terjadi seiring pelemahan dolar AS ke level terendah sejak awal 2022. Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak khawatir dengan pelemahan nilai tukar mata uang tersebut.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bagi investor global untuk melepas dolar AS. Indeks Spot Dolar Bloomberg sempat anjlok hingga 1,2 persen, sebelum bergerak stabil dalam perdagangan Asia.

Tekanan di pasar saham domestik diperparah oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.

Kebijakan tersebut dipicu kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi pasar. Kondisi ini mendorong aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sekitar Rp1,6 triliun. (A02)

 

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.