MENU
Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Airlangga Ungkap Penyebab dan Str...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Airlangga Ungkap Penyebab dan Strategi Pemerintah

J Editor : Jansen Siahaan | 05 May 2026 | 17:18 WIB
Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Airlangga Ungkap Penyebab dan Strategi Pemerintah
Ilustrasi mata uang Rupiah. (antara)

Jakarta, Sinata.id — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai level Rp17.424 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data, rupiah tercatat melemah 30 poin atau sekitar 0,17 persen. Level ini menjadi salah satu titik terlemah rupiah terhadap dolar AS dalam sejarah.

Airlangga menjelaskan, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang global yang turut tertekan akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Sebagian mata uang negara lain juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Permintaan Dolar Meningkat

Selain faktor global, Airlangga menyebut peningkatan permintaan dolar AS di dalam negeri turut memberi tekanan terhadap rupiah. Permintaan tersebut berasal dari kebutuhan ibadah haji serta pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing.

“Biasanya saat musim haji permintaan dolar meningkat. Selain itu, pada kuartal kedua juga ada pembayaran dividen, sehingga kebutuhan dolar menjadi tinggi,” jelasnya.

Strategi Pemerintah dan Bank Indonesia

Pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Salah satunya melalui kerja sama pertukaran mata uang (currency swap) dengan beberapa negara.

“Kami telah mempersiapkan kerja sama swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lainnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Airlangga.

Selain itu, pemerintah juga akan mengatur komposisi utang dan penerbitan surat berharga dalam mata uang alternatif, seperti yuan dan yen.

Dampak Konflik Timur Tengah

Tekanan terhadap rupiah juga dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut memicu ketidakpastian global serta berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.

Ketegangan dilaporkan meningkat setelah aksi militer di kawasan Teluk, termasuk insiden di Selat Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur energi di Uni Emirat Arab.

Kondisi ini berdampak pada pasar keuangan global, termasuk nilai tukar mata uang dan harga komoditas.

Ekonomi Domestik Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan global, kinerja ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.