Jakarta, Sinata.id — Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dibuka anjlok pada perdagangan Rabu (21/1/2026) menyusul kabar pencabutan izin usaha anak perusahaannya oleh Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.05 WIB, saham UNTR merosot 4.075 poin atau 12,74 persen ke level Rp27.900 per saham. Pada awal perdagangan, saham UNTR bergerak di kisaran Rp27.200 hingga Rp28.250 per saham.
Penurunan tajam ini terjadi setelah Prabowo mencabut izin usaha 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan di Sumatera. Keputusan tersebut diumumkan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/1/2026) malam.
“Berdasarkan laporan tersebut, Bapak Presiden mengambil keputusan tegas untuk mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran,” ujar Prasetyo.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 perusahaan merupakan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) hutan alam dan hutan tanaman dengan total luas mencapai lebih dari 1 juta hektare. Sementara enam perusahaan lainnya bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.
Di sektor pertambangan, izin usaha yang dicabut salah satunya adalah milik PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. PTAR merupakan entitas usaha milik PT United Tractors Tbk. (UNTR) dalam konglomerasi Grup Astra.
UNTR melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara, mengakuisisi 95 persen saham PT Agincourt Resources pada 4 Desember 2018 dengan nilai transaksi sekitar US$1 miliar. Sisa 5 persen saham dimiliki pemerintah daerah melalui PT Artha Nugraha Agung.
Kala itu, Presiden Direktur United Tractors, Gidion Hasan, menyatakan bahwa akuisisi tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi dan ekspansi UNTR di sektor mineral, khususnya emas, guna menciptakan kontribusi pendapatan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Tambang Emas Martabe mulai dikonstruksi pada 2008 dan beroperasi secara komersial sejak 2012. Hingga Desember 2017, sumber daya mineral Martabe tercatat mencapai 8,8 juta ons emas dengan estimasi cadangan sekitar 4,7 juta ons.
Pada 2017, Martabe menjual sekitar 352 ribu ons emas. Sementara pada 2024, penjualan setara emas mencapai sekitar 230 ribu ons atau meningkat 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan bersih UNTR dari bisnis emas dan mineral lainnya tercatat naik 90 persen menjadi Rp9,9 triliun, didorong oleh kenaikan harga emas.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.