Pematangsiantar, Sinata.id - Jelang HUT Kota Pematangsiantar ke 155, pelataran Tugu Raja Siantar Sangnaualuh Damanik di depan Makam Pahlawan Nagur "disulap" menjadi panggung festival pagelaran budaya Simalungun, bertajuk Marsombuh Sihol.
Acara Marsombuh Sihol yang digelar Sabtu (18/4/2026), bukan sebatas hiburan. Melainkan, penegasan identitas Kota Pematangsiantar ber-kearifan lokal, budaya Simalungun.
Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar memilih membuka rangkaian peringatan dengan budaya lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah daerah.
Kegiatan yang diwarnai pertunjukan musik tradisional, tarian, hingga berbagai lomba budaya tersebut, menampilkan Yongki Purba serta penampil dari sanggar seni lokal.
Marsombuh Sihol dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Junaedi Sitanggang. Pada pembukaan, Junaedi menegaskan, bahwa keputusan membuka perayaan dengan budaya Simalungun merupakan hasil kesepakatan bersama berbagai pihak.
“Ini bukan kebetulan. Kita ingin memastikan budaya menjadi fondasi dalam setiap perayaan kota,” ujar Junaedi.
Ia juga menyinggung pentingnya lokasi acara yang berada di kawasan monumen (tugu) bersejarah sebagai sarana edukasi publik. Monumen tersebut dinilai menjadi simbol perjuangan dan identitas masyarakat Simalungun yang tak terpisahkan dari perjalanan Kota Pematangsiantar.
Di sisi lain, suara masyarakat adat turut mengemuka. Perwakilan organisasi Simalungun menilai momentum ini sebagai langkah awal yang baik, namun berharap tidak berhenti sebagai seremoni tahunan semata.
“Selama ini ruang untuk budaya Simalungun sangat terbatas. Baru kali ini diberikan panggung khusus dalam rangkaian hari jadi kota. Harapannya ini menjadi agenda tetap, bukan sekadar simbolik,” tegas salah satu tokoh adat Simalungun.
Ia menambahkan, pelestarian budaya bukan soal politik, melainkan menjaga marwah dan jati diri. Dukungan pemerintah disebut menjadi kunci agar budaya Simalungun tetap hidup di tengah perkembangan kota.
Rangkaian kegiatan juga melibatkan generasi muda melalui lomba mewarnai tokoh sejarah, pidato budaya, serta peragaan busana adat. Panitia menyebut pendekatan ini penting untuk menanamkan nilai sejarah sejak dini.
“Anak-anak harus mengenal siapa tokoh mereka dan dari mana asal budayanya. Ini investasi jangka panjang,” ujar panitia pelaksana
Kepala Dinas Pariwisata Hamzah Fanzuri Damanik menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya seremonial, tetapi juga bagian dari strategi mengangkat potensi wisata berbasis budaya.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.