MENU
Saudi Geram! AS Alihkan Pertahanan Udara ke Israel, Teluk Merasa Ditin...
WA FB
Dunia

Saudi Geram! AS Alihkan Pertahanan Udara ke Israel, Teluk Merasa Ditinggalkan

R Editor : Redaksi Sinata | 03 Mar 2026 | 16:54 WIB
Saudi Geram! AS Alihkan Pertahanan Udara ke Israel, Teluk Merasa Ditinggalkan
Arab Saudi kecewa setelah AS memindahkan sistem pertahanan udara untuk melindungi Israel. Negara-negara Teluk kini merasa rentan terhadap serangan drone dan rudal Iran. (Ist)

Riyadh, Sinata.id - Ketegangan di Timur Tengah tak hanya memanas di garis depan pertempuran, tetapi juga memicu retakan di antara sekutu lama. Arab Saudi dilaporkan menunjukkan kekecewaan serius terhadap Amerika Serikat setelah Washington disebut mengalihkan sistem pertahanan udara di kawasan untuk memperkuat perlindungan Israel.

Seorang pejabat senior Saudi, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan rasa frustrasi tersebut. Menurutnya, langkah Washington membuat negara-negara Teluk, yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, justru berada dalam posisi lebih rentan terhadap potensi serangan Iran.

“AS meninggalkan kami dan mengalihkan pertahanan udaranya untuk melindungi Israel. Mereka membiarkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS menghadapi serangan Iran,” ujar pejabat itu, dikutip Selasa (3/3/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan yang berkembang di kawasan Teluk di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketika Washington menggencarkan operasi militernya terhadap Teheran, negara-negara sekutu di sekitarnya justru merasa terekspos.

Pada Senin (2/3/2026), Qatar dan Arab Saudi mengonfirmasi telah mencegat sejumlah drone Iran yang mengarah ke pangkalan militer AS di wilayah mereka. Otoritas menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun peristiwa itu mempertegas meningkatnya ancaman langsung terhadap infrastruktur strategis di negara-negara Teluk.

Kementerian Pertahanan Qatar mengungkapkan dua drone menargetkan fasilitas vital. Satu diarahkan ke tangki air di pembangkit listrik Mesaieed, selatan Doha. Sementara satu lainnya membidik fasilitas energi di Ras Laffan, kawasan pesisir utara yang menjadi pusat produksi gas alam cair—sektor kunci bagi ekonomi Qatar dan pasokan energi global.

Serangan-serangan ini memperlihatkan bahwa konflik tak lagi terbatas pada Iran dan Israel, melainkan telah merembet ke titik-titik vital ekonomi dan militer di kawasan.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menyasar target simbolik di Israel. Dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita Fars, mereka menyebut kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas komandan angkatan udara Israel menjadi sasaran.

“Kantor perdana menteri kriminal rezim Zionis dan markas komandan angkatan udara rezim itu telah menjadi sasaran,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.