MENU
Serangan Israel Kembali Klaim Korban di Gaza, Masa Depan Palestina Mas...
WA FB
Dunia

Serangan Israel Kembali Klaim Korban di Gaza, Masa Depan Palestina Masih Abu-abu

R Editor : Redaksi Sinata | 10 Feb 2026 | 19:11 WIB
Serangan Israel Kembali Klaim Korban di Gaza, Masa Depan Palestina Masih Abu-abu
Serangan Israel di Gaza klaim 3 korban jiwa, gencatan senjata rapuh. Masa depan Palestina tetap abu-abu, PBB peringatkan risiko destabilisasi. (Ist)

Gaza, Sinata.id – Di tengah klaim gencatan senjata yang sudah berjalan empat bulan, serangan militer Israel kembali menelan korban jiwa warga Palestina. Senin (9/2/2026), tiga orang tewas di wilayah barat Kota Gaza, menurut laporan Rumah Sakit Shifa, tempat para korban dilarikan.

Situasi ini menegaskan bahwa gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan. Militer Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons terhadap dugaan serangan terhadap pasukan mereka di Rafah, Gaza selatan, yang diklaim melanggar kesepakatan. Meski disebut “terukur”, korban sipil kembali berjatuhan.

Kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS lahir dari perundingan panjang dan mencakup penerimaan rencana 20 poin yang diajukan Presiden Donald Trump. Rencana itu diklaim akan menciptakan “perdamaian yang kuat, berkelanjutan, dan abadi.” Sebagai bagian dari kesepakatan awal, Hamas membebaskan semua sandera, sementara Israel melepaskan ribuan warga Palestina yang dipenjara serta menyerahkan sejumlah jenazah.

Namun, isu fundamental mengenai masa depan Jalur Gaza, tata kelola wilayah, dan nasib rakyat Palestina hingga kini tetap tanpa kepastian. Amerika Serikat pun belum menetapkan batas waktu penyelesaian persoalan-persoalan krusial tersebut.

Di sisi lain, PBB mengingatkan langkah terbaru Israel bisa memperburuk situasi. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicara Stéphane Dujarric, menyatakan keprihatinan mendalam. “Tindakan semacam ini, termasuk keberlanjutan kehadiran Israel di Wilayah Palestina yang Diduduki, bukan hanya bersifat destabilisasi, tetapi juga melanggar hukum internasional, sebagaimana telah ditegaskan oleh Mahkamah Internasional,” ujar Dujarric.

Minggu lalu, kabinet keamanan Israel menyetujui kebijakan yang memperdalam kontrol atas Tepi Barat sekaligus melemahkan Otoritas Palestina. Menteri Keuangan Israel yang berpandangan ekstrem kanan, Bezalel Smotrich, bahkan secara terbuka menyatakan bahwa kebijakan ini akan memudahkan pemukim Yahudi mendorong warga Palestina meninggalkan tanah mereka dan “mengubur gagasan negara Palestina.”

Sejak perang Timur Tengah 1967, Israel menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Hingga kini, rakyat Palestina tetap menuntut wilayah tersebut sebagai bagian dari negara merdeka di masa depan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dalam 24 jam terakhir lima warga Palestina tewas, sehingga total korban jiwa sejak gencatan senjata Oktober mencapai 581 orang. Sejak eskalasi perang 7 Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina telah meninggal akibat operasi militer Israel. Meski Gaza dikelola Hamas, data kementerian tetap diakui PBB dan pakar independen sebagai sumber paling dapat dipercaya. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.