Perasaan haru juga dirasakan oleh Asri Yuni Pratiwi Garingging, yang menerima rangkaian adat dan doa dari orang tuanya. “Sebagai anak dan calon ibu, saya merasa dikuatkan. Doa orang tua dan keluarga memberi ketenangan serta keyakinan bahwa Tuhan menyertai setiap proses kehamilan ini,” ungkap Asri. Perwakilan keluarga besar yang turut hadir menegaskan pentingnya menjaga adat di tengah perkembangan zaman. “Tradisi seperti Mambosuri harus terus dijaga. Inilah cara orang tua menanamkan nilai kasih, tanggung jawab, dan iman kepada generasi berikutnya,” katanya. Secara filosofis, tradisi Mambosuri bertujuan memohon agar bayi yang dikandung dapat lahir dengan sehat, serta ibu diberikan kekuatan dan keselamatan hingga masa persalinan. Lebih dari itu, Mambosuri menjadi wujud iman bahwa setiap kehidupan baru adalah anugerah Tuhan yang patut disyukuri dan dijaga bersama.
Di tengah arus modernisasi, pelaksanaan Mambosuri ini menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan adat istiadat leluhur. Tradisi bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi nilai yang mengajarkan penghormatan kepada orang tua, keluarga, dan Sang Pencipta.
Melalui Mambosuri, adat Batak Simalungun kembali berbicara tentang kehidupan, doa, kasih keluarga, serta tanggung jawab meneruskan warisan budaya agar tetap hidup dari zaman ke zaman.(SN7).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.