MENU
Banner SINATA.ID
Trauma Akustik, Ancaman Gangguan Pendengaran pada Korban Ledakan SMAN...
WA FB

Trauma Akustik, Ancaman Gangguan Pendengaran pada Korban Ledakan SMAN 72

T Editor : Tumpal Pandapotan 12 Nov 2025 | 11:00 WIB
Trauma Akustik, Ancaman Gangguan Pendengaran pada Korban Ledakan SMAN 72
Gambar ilustrasi gangguan pendengaran. ist

Jakarta, Sinata.id – Sejumlah siswa korban ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Pusat, mengalami gangguan pendengaran pascakejadian. Cedera telinga tersebut disebabkan oleh intensitas suara ledakan yang tinggi, sehingga memerlukan penanganan medis intensif guna memulihkan fungsi pendengaran.

Kerusakan serupa umum dijumpai pada korban ledakan yang mengalami cedera gendang telinga. Kondisi ini dikenal sebagai trauma akustik, yaitu gangguan pendengaran yang menimbulkan nyeri serta penurunan fungsi pendengaran akibat terpapar suara keras.

Memahami Trauma Akustik

Trauma akustik merupakan cedera pada telinga bagian dalam yang dipicu oleh paparan suara sangat keras, baik dari satu insiden seperti ledakan maupun paparan berulang dalam jangka panjang.

Menurut Audibel Hearing, cedera dapat terjadi dalam hitungan detik, namun dampaknya berpotensi menetap seumur hidup.

Berbeda dengan gangguan pendengaran akibat kebisingan yang bersifat bertahap, trauma akustik terjadi secara mendadak dan akut.

Kondisi ini sering disertai nyeri hebat, dan pada kasus tertentu, tekanan suara ekstrem dapat menyebabkan robeknya gendang telinga.

Pasien trauma akustik memerlukan penanganan intensif untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Tindakan medis seperti perbaikan gendang telinga mungkin diperlukan, sementara obat steroid dapat diresepkan untuk membantu pemulihan fungsi pendengaran.

Gejala-Gejala Trauma Akustik

Trauma akustik akibat ledakan dapat memicu sejumlah gejala, antara lain:

· Nyeri pada telinga · Peningkatan sensitivitas terhadap suara · Pusing atau vertigo · Penurunan pendengaran mendadak pada satu atau kedua telinga · Sensasi penuh atau tekanan di dalam telinga · Tinnitus (denging, dengung, atau desis di telinga)

Gejala tersebut dapat bersifat sementara atau permanen, tergantung tingkat keparahan cedera. Perubahan pendengaran mendadak memerlukan evaluasi medis segera untuk menentukan tingkat kerusakan dan rencana penanganan yang tepat.

Tindakan penanganan umumnya meliputi pembatasan paparan kebisingan serta penggunaan alat bantu dengar atau pelindung telinga. (*)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.