Kritik dari Dalam Negeri AS
Reaksi keras pun muncul dari kalangan politik di Washington.
William Taylor, mantan Duta Besar AS untuk Ukraina, menyebut langkah Trump “kurang tegas terhadap pihak yang jelas-jelas jadi penghalang perdamaian”.
Sementara itu, Senator Jeanne Shaheen dari Partai Demokrat mendesak Gedung Putih agar tidak sekadar menyerukan gencatan senjata, tetapi juga memperkuat sanksi terhadap Rusia dan mengirimkan bantuan senjata jarak jauh untuk memperkuat pertahanan Ukraina.
“Tanpa tekanan nyata, Putin tak akan pernah berhenti,” ujar Shaheen dalam pernyataannya.
Trump Siap Bertemu Putin Lagi
Meski dikritik, Trump tampaknya tetap berpegang pada pendekatannya sendiri. Ia dijadwalkan bertemu kembali dengan Putin dalam beberapa minggu ke depan di Hungaria, kurang dari tiga bulan setelah pertemuan mereka di Alaska yang berakhir tanpa hasil konkret.
Trump bahkan membuka kemungkinan bertemu secara terpisah dengan Putin dan Zelenskiy, bukan dalam satu forum bersama.
“Kedua pemimpin ini jelas tidak saling menyukai, dan kami ingin membuatnya nyaman bagi semua pihak,” ujarnya.
Sementara diplomasi berjalan lambat, situasi di lapangan justru semakin genting. Rusia dikabarkan menghancurkan lebih dari separuh fasilitas produksi gas Ukraina, membuat Kyiv kesulitan menghadapi musim dingin yang akan datang.
Trump tetap bersikukuh bahwa “Kremlin ingin mengakhiri perang”, meski Zelenskiy secara terbuka menolak pandangan itu.
“Putin tidak ingin damai,” tegas Zelenskiy di hadapan Trump, sembari kembali meminta jaminan keamanan dari Amerika Serikat yang hingga kini belum ia dapatkan. [zainal/a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.