Jakarta, Sinata.id — Harga emas dunia terpukul di perdagangan terbaru, mencetak penurunan yang signifikan dan meluas hingga pasar Indonesia. Dampak koreksi ini langsung dirasakan oleh konsumen emas batangan, termasuk PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam), yang mencatat penurunan harga jual di Butik Logam Mulia.
Pada Jumat (13/2/2026), harga jual emas Antam di pasar domestik tercatat sebesar Rp2.904.000 per gram, terpangkas sekitar Rp43.000 dari perdagangan sebelumnya. Selain itu, harga pembelian kembali (buyback) oleh Antam turun menjadi Rp2.688.000 per gram, lebih rendah sekitar Rp53.000 dibandingkan kemarin.
Pergerakan itu terjadi di tengah koreksi tajam harga emas dunia, yang pada perdagangan sebelumnya ditutup di kisaran US$4.905,50 per troy ons — turun lebih dari 3,5% dalam satu hari, menjadi level terendah pekan ini. Penurunan global ini menjadi pangkal turunnya harga emas fisik, termasuk emas Antam di pasar Indonesia.
Anjloknya harga emas dunia dipicu oleh faktor penguatan dolar AS dan aksi jual global atas logam mulia, menyebabkan investor mengalihkan aset mereka ke instrumen yang menawarkan imbal balik lebih tinggi dalam jangka pendek. Hal ini sekaligus menekan permintaan emas sebagai aset aman (safe haven).
Pergerakan ini bukan hanya kasus satu hari. Dalam beberapa minggu terakhir, komoditas logam mulia menunjukkan tren fluktuatif, terkadang mencatat koreksi tajam, bahkan setelah reli harga yang sempat membawa harga Antam di atas level Rp3,1 juta per gram pada pekan sebelumnya.
Anjloknya harga emas batangan Antam langsung mempengaruhi perilaku pasar di Indonesia. Bagi para investor ritel atau masyarakat yang selama ini memanfaatkan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, tren penurunan ini dapat memicu keputusan strategis, menunggu rebound atau merealisasikan laba di harga yang relatif masih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Pengamat pasar modal menilai bahwa pelemahan harga ini bisa menjadi peluang bagi pembeli baru masuk ke pasar, namun juga memperingatkan bahwa volatilitas emas saat ini mencerminkan sentimen global yang masih rentan terhadap dinamika ekonomi dunia. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.