MENU
Utang Jumbo Whoosh Tanggung Jawab Danantara dan Tanggapan China
WA FB
Nasional

Utang Jumbo Whoosh Tanggung Jawab Danantara dan Tanggapan China

R Editor : Redaksi Sinata | 21 Oct 2025 | 19:45 WIB
Utang Jumbo Whoosh Tanggung Jawab Danantara dan Tanggapan China
Beijing tegaskan siap terus bekerja sama dengan Indonesia dan klaim proyek ini bawa dampak besar bagi ekonomi nasional. (Sekretariat Presiden)

Sinata.id – Pemerintah Tiongkok akhirnya buka suara soal utang jumbo proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh. Negeri Tirai Bambu itu menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan Indonesia, bahkan siap memfasilitasi pengoperasian Whoosh di tengah polemik yang kian ramai dibicarakan publik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyampaikan bahwa proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara itu bukan hanya simbol kemajuan, tapi juga penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Indonesia.

“Kereta ini telah melayani lebih dari 11,71 juta penumpang dengan tren penumpang yang terus meningkat. Dampaknya terasa nyata, membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi di sepanjang jalur yang dilalui,” ujar Guo, dikutip Selasa (21/10/2025).

Guo menambahkan, baik pemerintah Indonesia maupun China terus berkoordinasi untuk memastikan Whoosh beroperasi dengan aman, stabil, dan efisien.

“Otoritas dari kedua negara menjaga koordinasi erat. Kami siap bekerja sama untuk memastikan pengoperasian kereta cepat Jakarta–Bandung berkualitas tinggi,” tegasnya.

Pihak China juga menilai, Whoosh bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang yang akan memperkuat konektivitas antarwilayah serta mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Namun di sisi lain, perhatian publik kini tertuju pada besarnya utang proyek Whoosh yang mencapai Rp116 triliun. Isu ini mencuat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak akan menggunakan dana APBN untuk menutup kewajiban tersebut.

Menurutnya, tanggung jawab pelunasan berada di tangan Danantara Holding, selaku induk dari PT Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC).

“KCIC itu di bawah Danantara, dan mereka sudah punya manajemen serta dividen sendiri. Jadi seharusnya bisa mengelola dari situ, bukan minta ke APBN lagi,” kata Purbaya dalam media gathering di Bogor, belum lama ini.

Purbaya menekankan bahwa Danantara memiliki kemampuan finansial besar, dengan rata-rata dividen tahunan mencapai Rp80 triliun. Karena itu, ia berharap holding BUMN tersebut mampu menanggung beban proyek tanpa menggoyahkan anggaran negara.

Tambah Modal atau Serahkan ke Pemerintah

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, sempat memaparkan dua opsi skema pembayaran utang besar tersebut.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.