Sistem AI disebut masih sering melakukan kesalahan karena bergantung pada basis data besar yang tidak selalu diperbarui secara akurat.
Kasus yang dialami Ben menjadi contoh bahwa bot AI belum mampu membedakan antara utang yang masih aktif dan yang sebenarnya sudah lunas.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait privasi data dan tekanan psikologis terhadap masyarakat.
Penggunaan AI memang dinilai mampu menekan biaya operasional perusahaan secara signifikan. Namun, para pengamat menilai regulasi dan pengawasan tetap diperlukan agar teknologi tersebut tidak merugikan konsumen.
Ke depan, perusahaan teknologi dan industri penagihan utang dinilai perlu mengembangkan sistem AI yang lebih akurat dan mampu memverifikasi status utang secara real-time sebelum melakukan penagihan.
Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menghadirkan regulasi yang jelas untuk melindungi hak konsumen di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.