Sinata.id - Menjelang pergantian tahun baru, suasana yang menyelimuti Jalur Gaza jauh dari gemerlap perayaan. Tidak ada hitung mundur, tidak pula pesta kembang api. Bagi warga Gaza, momen pergantian tahun justru menjadi penanda panjangnya derita yang belum berujung, di tengah konflik berkepanjangan yang meluluhlantakkan kehidupan mereka.
Di wilayah yang selama hampir dua tahun terakhir diguncang perang, keseharian tidak lagi diisi rencana masa depan.
Yang tersisa hanyalah upaya bertahan hidup.
Reruntuhan bangunan menjadi pemandangan biasa, listrik menyala tak menentu, sementara ratusan ribu penduduk hidup berpindah-pindah, mengandalkan tenda darurat setelah berulang kali mengungsi sejak konflik memuncak pada Oktober 2023.
“Rasanya seperti terjebak dalam mimpi buruk tanpa akhir,” ujar Hanaa Abu Amra, perempuan pengungsi berusia awal 30-an yang kini bertahan di Kota Gaza, dikutip Kamis (1/1/2025).
Ia mengatakan, harapan sederhana menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi warga Gaza.
“Kami hanya ingin hidup normal—lampu menyala, jalanan kembali lapang, dan anak-anak bisa berjalan tanpa rasa takut,” tuturnya.
Lebih dari dua juta jiwa di Gaza menghadapi situasi serupa.
Tahun yang hampir berlalu meninggalkan catatan kehilangan, ketidakpastian, dan trauma mendalam.
Shireen Al-Kayali menggambarkan bagaimana warga Gaza menutup tahun dengan hati yang berat.
“Kami kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan anggota keluarga. Kami terus berpindah, selalu dihantui rasa takut,” katanya.
Pengungsian berulang telah memutus ikatan kehidupan lama.
Banyak keluarga terpaksa meninggalkan segala yang dimiliki dalam hitungan menit, tanpa kepastian ke mana harus melangkah.
Di tengah situasi itu, Palestina seolah memasuki tahun baru dengan luka yang belum sempat mengering.
Namun, di balik puing-puing kehancuran, secercah harapan masih dipelihara.
Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Oktober memberi ruang napas bagi sebagian masyarakat.
Khaled Abdel Majid (50), penghuni tenda pengungsian di Kamp Jabalia, berharap tahun baru membawa perubahan nyata.
“Kami ingin dunia tidak berpaling. Kami butuh dukungan untuk membangun kembali kehidupan kami,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Faten Al-Hindawi.
Ia menaruh doa agar perang benar-benar berakhir.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.