Meski demikian, masa depan RUU itu masih tanda tanya. Gagasan untuk mengambil alih Greenland secara paksa menuai penolakan dari berbagai kalangan di dalam negeri AS sendiri.
Senator Republik Rand Paul memperingatkan bahwa kebijakan tersebut justru bisa merugikan Amerika, sementara Senator Demokrat Chris Murphy menilai langkah itu berpotensi menghancurkan fondasi aliansi NATO.
Dari Eropa, pemerintah Denmark kembali menegaskan sikap tegasnya bahwa Greenland tidak untuk diperjualbelikan ataupun diserahkan kepada pihak lain.
Duta Besar Denmark untuk AS, Jesper Moller Sorensen, menekankan bahwa penentuan masa depan Greenland sepenuhnya berada di tangan rakyatnya.
Ia mengingatkan bahwa pada referendum tahun 2008, mayoritas penduduk Greenland memilih untuk mempertahankan status otonomi dalam Kerajaan Denmark.
Di sisi lain, China juga mengecam upaya Trump yang dianggap menggunakan isu ancaman Beijing dan Moskow sebagai alasan untuk mencaplok Greenland.
Rusia pun konsisten menolak gagasan militerisasi kawasan Arktik, dengan menekankan pentingnya kerja sama damai di wilayah tersebut.
Meski Kremlin belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan terbaru Trump, pejabat Rusia sebelumnya telah menyatakan bahwa masa depan Greenland semestinya ditentukan oleh masyarakat pulau itu sendiri. (A18)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.