Oleh: Pdt. Mis Ev Daniel Pardede, M.Th
Firman Tuhan dalam Matius 6:14–15 secara tegas menegaskan prinsip dasar dalam kehidupan iman Kristen, yakni kewajiban untuk mengampuni sebagai syarat menerima pengampunan dari Allah.
Ayat tersebut menyatakan bahwa setiap orang yang mengampuni kesalahan sesamanya akan menerima pengampunan dari Bapa di surga. Sebaliknya, ketidakmauan untuk mengampuni akan menghalangi pengampunan ilahi.
Pesan ini disampaikan secara jelas dan lugas, tanpa membuka ruang tafsir yang multitafsir. Prinsip yang diajarkan bersifat langsung dan timbal balik. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, firman ini dapat diibaratkan seperti sebuah hukum sebab-akibat: seseorang tidak mungkin mencapai tujuan apabila ia tidak bersedia melangkah menuju ke sana.
Dalam praktiknya, tidak sedikit umat percaya yang kurang menyadari ketegasan firman ini. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kurangnya pembacaan Alkitab, minimnya pemahaman, atau karena firman tersebut diabaikan meskipun telah diketahui. Padahal, syarat utama untuk memperoleh pengampunan dosa adalah kesediaan untuk terlebih dahulu mengampuni kesalahan orang lain.
Yesus Kristus sendiri mengajarkan doa dalam Matius 6:9–13, yang di dalamnya terdapat permohonan agar Allah mengampuni dosa manusia sebagaimana manusia mengampuni sesamanya.
Doa tersebut mengandung makna komitmen rohani yang mendalam. Oleh karena itu, memanjatkan doa pengampunan tanpa disertai sikap mengampuni sesama justru bertentangan dengan isi doa itu sendiri.
Firman ini sekaligus menjadi peringatan agar umat percaya tidak memisahkan antara ibadah, doa, dan sikap hidup sehari-hari.
Pengampunan bukan sekadar ucapan, melainkan keputusan hati yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata, tanpa menunda waktu.
Mengampuni adalah panggilan iman yang menuntut kerendahan hati dan ketaatan penuh kepada firman Tuhan.
Jangan menunda untuk mengampuni, baik pagi maupun petang, sebab pengampunan yang tulus membuka jalan bagi pemulihan relasi dengan sesama dan dengan Allah.
Kiranya setiap waktu yang dianugerahkan Tuhan dipergunakan untuk menabur kasih, kebajikan, dan kemurahan kepada semua orang. (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.