Tel Aviv, Sinata.id – Ratusan aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla dilaporkan telah dibebaskan pemerintah Israel dan dipulangkan ke negara masing-masing, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI).
Sebelumnya, para aktivis ditangkap saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina, di perairan lepas pada 18 Mei 2026. Mereka sempat ditahan selama beberapa hari sebelum akhirnya dibebaskan pada Kamis (21/5/2026).
Saat ini, para WNI dilaporkan berada di Istanbul dan menunggu proses pemulangan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan seluruh WNI dapat segera kembali dengan aman.
Dalam keterangannya, sejumlah aktivis mengungkap dugaan perlakuan tidak manusiawi selama berada dalam tahanan militer Israel. Beberapa di antaranya mengaku mengalami kekerasan fisik hingga dugaan pelecehan seksual.
Misi kemanusiaan tersebut diketahui berangkat dari Pelabuhan Marmaris, Turki, pada 14 Mei 2026 menggunakan sekitar 50 kapal yang membawa bantuan medis dan logistik untuk warga sipil di Jalur Gaza.
Aktivis Ungkap Dugaan Kekerasan
Dokter asal Australia, Bianca Webb-Pullman, menyebut perlakuan aparat Israel terhadap para aktivis berlangsung kasar sejak proses penangkapan di laut hingga masa penahanan.
“Kami ditahan lebih dari satu jam, sementara tentara memutar lagu kebangsaan berulang kali sambil bersikap brutal terhadap semua orang,” ujarnya.
Ia mengaku sejumlah aktivis mengalami pemukulan, tendangan, hingga tidak mendapatkan akses makanan dan air yang memadai selama penahanan.
“Kami bukan penjahat. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan,” katanya.
Aktivis asal Prancis, Adrien Jouan, juga mengaku mengalami kekerasan saat berada di kapal tahanan.
“Ya, mereka memukuli saya. Itu seperti penyiksaan,” ujarnya sambil menunjukkan luka memar di tubuhnya.
Menurut Jouan, hampir seluruh peserta misi mengalami perlakuan serupa selama penahanan.
Sementara itu, aktivis Belgia, Arno Meyne, mengungkapkan beberapa peserta mengalami luka serius, termasuk patah tulang dan trauma kepala. Ia juga menyebut adanya dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah aktivis.
Dugaan Perlakuan Diskriminatif
Para aktivis turut menyoroti dugaan perlakuan diskriminatif selama penahanan. Jouan menyebut peserta yang berlatar belakang Arab atau tidak berpenampilan “Eropa kulit putih” diduga mengalami perlakuan lebih keras.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.