MENU
Anak SMP Kian Tenggelam di Layar HP, Kesehatan Mental Terancam
WA FB
News

Anak SMP Kian Tenggelam di Layar HP, Kesehatan Mental Terancam

R Editor : Redaksi Sinata | 15 Jan 2026 | 01:55 WIB
Anak SMP Kian Tenggelam di Layar HP, Kesehatan Mental Terancam
Studi Save the Children Indonesia mengungkap 40 persen anak usia SMP menghabiskan hingga 6 jam per hari di depan gawai. Kondisi ini berdampak serius pada kesehatan mental dan keselamatan anak di ruang digital. (Ilustrasi)

Sinata.id - Fenomena anak-anak yang tak lepas dari gawai kini memasuki fase mengkhawatirkan. Studi terbaru yang dipaparkan Save the Children Indonesia menunjukkan, sekitar empat dari sepuluh pelajar usia SMP di Indonesia menghabiskan hingga enam jam setiap hari berinteraksi dengan layar ponsel.

Paparan temuan itu disampaikan dalam forum Refleksi Hak Anak 2025 dan Urgensi Agenda 2026 yang digelar secara daring, Rabu (14/1/2026).

Hasil riset mengungkap, waktu penggunaan gawai paling padat terjadi pada rentang pukul 18.00 hingga 21.00, saat anak seharusnya beristirahat atau berinteraksi dengan keluarga.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menyebutkan ada kesenjangan mencolok dalam pola penggunaan gawai berdasarkan gender. Anak perempuan, menurutnya, tercatat menghabiskan waktu layar lebih panjang dibandingkan anak laki-laki.

“Ini mengonfirmasi satu hal penting: ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak,” ujar Dessy.

Bahkan, kata dia, pembatasan penggunaan ponsel di sekolah belum sepenuhnya efektif, karena anak tetap berupaya mengakses gawai di sela jam belajar.

Namun, yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar durasi. Studi tersebut menemukan hubungan terbalik antara kecanduan digital dan kesehatan mental anak. Semakin tinggi intensitas penggunaan gawai, semakin rentan kondisi psikologis mereka.

Ironisnya, peningkatan literasi digital tidak otomatis membuat anak lebih aman. Banyak anak sebenarnya sudah mengenali ancaman di ruang siber—mulai dari penipuan, peretasan, pencurian data, hingga perundungan daring. Tetapi, pemahaman itu tidak diikuti kemampuan bertindak secara aman dan sehat.

“Mereka tahu risikonya, tapi tidak tahu harus berbuat apa ketika risiko itu benar-benar terjadi,” kata Dessy.

Ia menegaskan, literasi digital saja tidak cukup. Anak memerlukan penguasaan kompetensi digital yang menyeluruh, pendampingan aktif dari orang tua, keterlibatan guru, serta dukungan kesehatan mental yang memadai agar tidak terseret dampak buruk dunia digital.

Menatap 2026, Save the Children Indonesia menyoroti sejumlah agenda mendesak. Di antaranya memperkuat sistem keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, mekanisme perlindungan yang lebih solid, serta partisipasi aktif anak, orang tua, dan tenaga pendidik. Selain itu, anak juga perlu dibekali literasi adaptasi krisis iklim dan ruang aksi iklim yang bermakna.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.