Riyadh, Sinata.id — Krisis geopolitik di Timur Tengah kini mengguncang jantung perdagangan energi dunia. Setelah jalur strategis Selat Hormuz nyaris berhenti beroperasi akibat eskalasi konflik regional, Arab Saudi bergerak cepat menyiapkan jalur alternatif distribusi minyak dengan memanfaatkan pelabuhan di Laut Merah.
Langkah darurat ini dilakukan untuk menjaga pasokan minyak tetap mengalir ke pasar global, terutama ke negara-negara konsumen utama di Asia yang sangat bergantung pada energi dari kawasan Teluk.
Dikutip Selasa (17/3/2026), pemerintah Saudi melalui perusahaan energi raksasa Saudi Aramco mulai menawarkan opsi baru kepada para pembeli minyak jangka panjang. Mereka diberi pilihan untuk menerima pengiriman minyak mentah melalui pelabuhan Yanbu, yang berada di pesisir Laut Merah, bukan lagi melalui jalur tradisional Selat Hormuz.
Selat Hormuz selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu “titik leher botol” paling penting bagi perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia biasanya melintas melalui jalur sempit tersebut setiap hari.
Namun sejak konflik regional memanas pada akhir Februari 2026, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut anjlok drastis. Serangan terhadap kapal dan ancaman keamanan membuat banyak perusahaan pelayaran menunda perjalanan, bahkan menghentikan operasi sementara di kawasan itu.
Akibatnya, ratusan kapal tanker terpaksa menunggu di luar wilayah Teluk Persia, sementara pasar energi global mulai merasakan dampak gangguan pasokan.
Untuk menghindari kemacetan di Hormuz, Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui jaringan pipa East-West Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di kawasan timur kerajaan dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Melalui jalur ini, minyak dapat dikirim langsung ke kapal tanker tanpa harus melewati perairan yang kini berisiko tinggi di Teluk Persia.
Data pelacakan kapal bahkan menunjukkan sejumlah supertanker mulai berkumpul di lepas pantai Laut Merah untuk menunggu giliran memuat minyak dari pelabuhan Yanbu.
Langkah tersebut menjadi strategi penting bagi Riyadh untuk memastikan ekspor energi tetap berjalan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Meski jalur alternatif tersedia, para analis memperingatkan kapasitasnya tidak sepenuhnya mampu menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.