MENU
Arti Ramadhan Kareem dan Ramadhan Mubarak, Ini Perbedaannya
WA FB
Religi

Arti Ramadhan Kareem dan Ramadhan Mubarak, Ini Perbedaannya

J Editor : Jansen Siahaan | 18 Feb 2026 | 22:08 WIB
Arti Ramadhan Kareem dan Ramadhan Mubarak, Ini Perbedaannya
Ilustrasii Ramadhan Kareem. (istimewa)

Pematangsiantar, Sinata.id – Bulan Ramadhan identik dengan berbagai ucapan doa dan harapan kebaikan.

Dua ungkapan yang paling sering terdengar saat menyambut bulan suci adalah Ramadhan Kareem dan Ramadhan Mubarak. Keduanya berasal dari bahasa Arab dan digunakan sebagai bentuk sukacita sekaligus doa dalam menyambut ibadah puasa.

Meski sama-sama populer, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami perbedaan makna di antara keduanya. Sekilas terdengar serupa, namun secara bahasa dan penekanan teologis, kedua frasa tersebut memiliki arti yang berbeda.

Apa Arti Ramadhan Kareem?

Secara bahasa, kata karim berarti mulia atau murah hati. Dalam ajaran Islam, Al-Karim merupakan salah satu dari Asmaul Husna yang merujuk pada sifat Allah SWT Yang Maha Pemurah.

Jika diterjemahkan secara harfiah, Ramadhan Kareem berarti “Ramadhan yang murah hati” atau “Ramadhan yang bermurah hati.” Ungkapan ini umumnya dimaknai sebagai doa agar bulan Ramadhan dipenuhi kebaikan, kelapangan rezeki, serta semangat berbagi kepada sesama.

Namun, sebagian ulama menilai bahwa secara makna literal, sifat “karim” lebih tepat disematkan kepada Allah SWT, bukan kepada bulan Ramadhan. Sebab, yang memberi pahala, ampunan, dan keberkahan adalah Allah SWT, sementara Ramadhan hanyalah momentum yang dimuliakan.

Meski demikian, dalam praktik sosial, Ramadhan Kareem tetap dipahami sebagai ungkapan simbolik yang mencerminkan besarnya kemurahan Allah SWT pada bulan suci.

Apa Arti Ramadhan Mubarak?

Sementara itu, kata mubarak berarti diberkahi atau penuh keberkahan. Dengan demikian, Ramadhan Mubarak bermakna “Ramadhan yang diberkahi.”

Ungkapan ini dinilai lebih tepat secara bahasa dan akidah karena tidak menisbatkan sifat memberi kepada bulan Ramadhan. Keberkahan tetap dipahami berasal dari Allah SWT.

Pendapat ini juga ditegaskan oleh ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin yang menyatakan bahwa yang memberi keutamaan adalah Allah SWT, bukan bulan Ramadhan itu sendiri.

Selain itu, terdapat hadis riwayat Imam Ahmad yang menyebut Ramadhan sebagai “bulan yang diberkahi.” Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa pada bulan Ramadhan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Hal ini menjadi dasar kuat penggunaan istilah Ramadhan Mubarak.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.