Jakarta, Sinata.id — Di tengah meningkatnya bencana dan krisis iklim, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyerukan kebangkitan peran umat beragama untuk menjaga bumi. Seruan itu disampaikan dalam forum muzakarah nasional yang digelar di Masjid Istiqlal, Rabu (28/1/2026), yang menempatkan agama sebagai kekuatan moral dalam menghadapi ancaman lingkungan.
Forum bertajuk Resolusi Umat: Penanggulangan Bencana dengan Ekoteologi tersebut mempertemukan pemerintah, ilmuwan, tokoh agama, dan pegiat lingkungan. Hadir di antaranya perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Diskusi diarahkan pada satu kesimpulan: krisis ekologis tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan teknis, tetapi membutuhkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam.
Dalam paparannya, Menag menilai kerusakan lingkungan berakar pada pemahaman teologis yang keliru—ketika manusia menempatkan diri sebagai pusat dan membenarkan eksploitasi alam. Ia mendorong transformasi pemahaman keagamaan agar kesadaran ekologis tumbuh sebagai bagian dari iman.
“Bahasa agama paling efektif menyentuh nurani. Aturan hukum dan kebijakan sering tidak cukup. Agama mampu menanamkan tanggung jawab spiritual manusia terhadap alam,” ujar Menag, menekankan peran etika keimanan.
Menag menegaskan alam bukan objek mati, melainkan ciptaan Tuhan yang memiliki kesakralan. Kerusakan lingkungan, kata dia, bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga krisis kemanusiaan. Karena itu, ia mendorong gagasan penyucian kembali alam dalam kesadaran umat beragama.
“Air, gunung, hutan, dan seluruh ekosistem adalah tanda-tanda Tuhan. Ketika alam dirusak, dampaknya berantai pada kehidupan manusia. Bencana yang meningkat adalah peringatan agar manusia kembali bersahabat dengan alam,” tuturnya.
Ia juga menegaskan Masjid Istiqlal ke depan diproyeksikan bukan hanya sebagai ruang ibadah, melainkan pusat dialog lintas iman dan isu kemanusiaan global—termasuk lingkungan dan kebencanaan. Spirit masjid sebagai pusat pemberdayaan umat, menurutnya, perlu dihidupkan kembali.
Dari sisi kebencanaan, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menyampaikan bahwa karakter Indonesia sebagai negara rawan bencana menuntut pendekatan kolaboratif. Penguatan kesadaran spiritual dan sosial dinilai mampu meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko.
Sementara itu, perwakilan BMKG memaparkan peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi sebagai dampak perubahan iklim. Edukasi publik dan perubahan perilaku ramah lingkungan disebut sebagai langkah mitigasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.