MENU
Bahlil Hentikan Impor Solar Tahun Depan
WA FB
Nasional

Bahlil Hentikan Impor Solar Tahun Depan

R Editor : Redaksi Sinata | 15 Dec 2025 | 20:16 WIB
Bahlil Hentikan Impor Solar Tahun Depan
Bahlil Lahadalia. (Ist)

Sinata.id - Pemerintah menegaskan langkah besar menuju kemandirian energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia akan menghentikan impor Solar mulai tahun depan, seiring lonjakan kapasitas produksi dalam negeri.

Pernyataan itu disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).

Bahlil menekankan, kesiapan produksi nasional menjadi landasan utama keputusan strategis tersebut, terutama setelah fasilitas Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan beroperasi penuh.

Menurut Bahlil, peningkatan pasokan Solar domestik juga akan ditopang kebijakan pencampuran bahan bakar nabati.

Pemerintah berencana menaikkan bauran biodiesel menjadi 50 persen (B50) pada semester kedua 2026.

Skema ini diyakini mampu menutup kebutuhan konsumsi nasional tanpa ketergantungan impor.

“Mulai tahun depan, kebutuhan Solar kita bisa dipenuhi dari dalam negeri. Produksi dan konsumsi sudah seimbang,” ujar Bahlil.

Dengan penerapan B50, Kementerian ESDM memperkirakan akan terjadi kelebihan pasokan Solar hingga sekitar 4 juta ton.

Surplus tersebut, kata Bahlil, berpeluang dikonversi menjadi Avtur sehingga kebutuhan bahan bakar penerbangan pun dapat dipenuhi dari produksi nasional.

“Target kami, pada 2026 Solar tuntas, Avtur juga bisa kita produksi sendiri,” tegasnya.

Namun demikian, operasional komersial RDMP Balikpapan kembali mengalami penyesuaian jadwal.

Kilang raksasa tersebut belum dapat diresmikan sesuai target awal karena masih memerlukan proses sinkronisasi dan uji coba antarsistem yang lebih panjang dari perkiraan.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan, tahapan teknis tersebut menjadi penentu utama sebelum kilang dinyatakan siap beroperasi penuh.

“Masih ada proses penyelarasan dan pengujian sistem di RDMP,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (15/12/2025).

Yuliot belum memastikan tanggal baru peresmian kilang. Ia menyebut keputusan akhir akan bergantung pada hasil evaluasi yang dilakukan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai operator.

RDMP Balikpapan sendiri diproyeksikan menjadi tulang punggung baru pengolahan energi nasional.

Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang tengah disiapkan memiliki kapasitas hingga 90.000 barel per hari.

Teknologi ini memungkinkan residu minyak mentah diolah menjadi produk bernilai tinggi, termasuk LPG, bensin, dan propilena.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.