Pembatasan logam tanah jarang sendiri menjadi isu lama dalam perang dagang era Presiden AS Donald Trump. Material ini krusial bagi persenjataan—jet tempur, drone, hingga rudal—serta industri sipil seperti ponsel pintar dan kendaraan listrik.
Data Organisasi Keamanan Logam dan Energi Jepang menunjukkan, pada 2024 Jepang masih bergantung sekitar 70 persen pada China untuk impor logam tanah jarang. Sejarah mencatat, pada 2010 Beijing pernah menghentikan pengiriman material vital itu di tengah sengketa teritorial, memicu kekacauan di industri manufaktur Jepang.
Kali ini, Beijing tampak memilih pendekatan yang lebih sempit dengan fokus militer—belum sampai pada larangan total seperti satu dekade lalu. Namun bagi pasar dan kawasan, pesan politiknya jelas: kartu dagang dan teknologi kembali dimainkan, dan Selat Taiwan tetap menjadi poros ketegangan. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.