Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH Mazmur 90 ayat 15–16 menyampaikan sebuah doa yang mendalam tentang keseimbangan hidup antara penderitaan dan sukacita.
Pemazmur memohon agar Tuhan menggantikan hari-hari penindasan dengan sukacita, serta memperlihatkan karya dan kemuliaan-Nya kepada umat dan generasi berikutnya.
Pesan ini menjadi refleksi penting bagi umat Kristen dalam memaknai realitas hidup yang tidak selalu berjalan mulus.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap dihadapkan pada situasi duka, kegagalan, dan penderitaan yang datang silih berganti.
Melalui perenungan rohani, umat diajak untuk menghitung hari-hari hidupnya dengan kesadaran penuh, termasuk mengakui kekurangan, kesalahan, dan pelanggaran yang pernah dilakukan, baik yang disadari maupun yang luput dari perhatian. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk memperbaiki relasi dengan sesama dan, terutama, dengan Tuhan.
Nilai pengharapan juga tercermin dalam syair-syair rohani yang mengingatkan bahwa setelah hujan akan muncul pelangi, dan bahwa benih yang ditanam harus melalui proses kematian sebelum menghasilkan buah. Gambaran tersebut menegaskan bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju pertumbuhan dan pemulihan.
Teladan tertinggi dari makna ini terlihat dalam kehidupan Yesus Kristus. Ia datang dari kemuliaan, namun memilih jalan penderitaan dan pengorbanan yang besar demi menghadirkan keselamatan dan sukacita yang jauh lebih besar bagi umat manusia. Dalam perspektif iman, penderitaan yang dialami bukan tanpa tujuan, sebab Tuhan yang mengizinkan luka juga adalah Tuhan yang menyembuhkan, sebagaimana tertulis dalam kitab Ayub.
Rasul Paulus pun mengingatkan umat agar tetap bersukacita dalam segala keadaan. Sukacita yang dimaksud bukanlah perasaan tanpa masalah, melainkan keteguhan iman yang bersandar pada pengharapan di dalam Tuhan, bahkan ketika dukacita masih menyertai perjalanan hidup.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu dipenuhi hari cerah, namun iman mengajarkan bahwa Tuhan senantiasa hadir, baik dalam terang maupun dalam hujan.Dukacita mungkin datang lebih dahulu, tetapi pengharapan memberi keyakinan bahwa gelap tidak akan bertahan selamanya.
Dengan iman, ketekunan, dan pengharapan kepada Tuhan, setiap orang diajak untuk melangkah dengan hati yang tetap bersukacita, sembari menghitung hari-hari hidupnya dengan penuh makna. Shalom.(A27).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.