MENU
Belajar dari Gereja Mula-Mula: Kesepakatan Sehat yang Mendatangkan Per...
WA FB
Religi

Belajar dari Gereja Mula-Mula: Kesepakatan Sehat yang Mendatangkan Pertumbuhan dan Berkat

F Editor : Ferry SP Sinamo | 27 Jan 2026 | 12:52 WIB
Belajar dari Gereja Mula-Mula: Kesepakatan Sehat yang Mendatangkan Pertumbuhan dan Berkat
Ps. Dion Panomban

Oleh: PS Dion Panomban

Dalam kehidupan sosial maupun rohani, kesepakatan sering dipandang sebagai kekuatan pemersatu. Namun, Alkitab mencatat bahwa tidak semua kesepakatan membawa kebaikan. Ada kesepakatan yang justru lahir dari hati yang tidak beres dan berujung pada kehancuran.

Hal inilah yang menjadi pokok perenungan Saat Teduh Abba Home Family, Selasa (27/1/2026), yang mengajak umat percaya untuk menilai kembali makna kesepakatan dalam terang firman Tuhan.

Alkitab mencatat sejumlah contoh kesepakatan yang keliru. Ananias dan Safira bersepakat untuk mendustai Roh Kudus dan menerima akibat yang fatal. Yudas Iskariot bersepakat menjual Yesus demi uang. Bangsa Israel pun pernah bersepakat memberontak melawan Tuhan dengan menentang Musa. Semua kesepakatan tersebut lahir dari hati yang tidak dipulihkan dan justru mendatangkan kutuk bagi para pelakunya.

Pesan utama dari perenungan ini menegaskan bahwa kesepakatan sejati membutuhkan kesembuhan batin. Seseorang tidak akan mampu membangun kesepakatan yang benar dengan orang lain sebelum ia berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima dirinya apa adanya di hadapan Tuhan.

Sebagai kontras dari kesepakatan yang jahat, perenungan ini mengajak umat untuk melihat teladan gereja mula-mula sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41–47. Perikop ini menggambarkan komunitas orang percaya yang hidup dalam kesatuan, ketekunan, dan kasih yang nyata.

Dalam ayat 41 disebutkan bahwa mereka yang menerima pemberitaan firman memberi diri dibaptis, dan pada hari itu jumlah orang percaya bertambah sekitar tiga ribu jiwa. Ayat 42 menegaskan bahwa mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Kehidupan iman tidak berhenti pada pengakuan percaya, tetapi diwujudkan dalam gaya hidup yang terarah dan konsisten.

Gereja mula-mula juga menampilkan gaya hidup yang unik dan radikal. Mereka hidup dalam kesatuan, saling berbagi, bahkan rela menjual harta milik untuk memenuhi kebutuhan sesama. Setiap hari mereka berkumpul dengan sehati, baik di Bait Allah maupun di rumah-rumah, makan bersama dengan sukacita dan ketulusan, serta memuji Allah. Dampaknya bukan hanya dirasakan secara internal, tetapi juga eksternal, karena mereka “disukai semua orang” dan Tuhan sendiri yang menambahkan jumlah orang yang diselamatkan setiap hari.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.