MENU
BI Rate Naik ke 5,25%, Ekonomi 2026 Diproyeksi Melambat di Kisaran 4,9...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

BI Rate Naik ke 5,25%, Ekonomi 2026 Diproyeksi Melambat di Kisaran 4,9–5,1%

J Editor : Jansen Siahaan | 21 May 2026 | 20:14 WIB
BI Rate Naik ke 5,25%, Ekonomi 2026 Diproyeksi Melambat di Kisaran 4,9–5,1%
Ilustrasi BI Rate. (perbanas)

Jakarta, Sinata.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode kuartal II hingga kuartal IV 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,1% secara tahunan (yoy).

Proyeksi tersebut dipengaruhi tekanan eksternal global serta kebijakan suku bunga tinggi.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sebelumnya, pasar telah merespons pengetatan moneter melalui kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI.

Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah serta kenaikan instrumen pasar seperti SBN dan SRBI sudah terjadi sejak awal tahun, bahkan sebelum keputusan BI Rate diumumkan.

“Catatan saja, sebelum kenaikan BI Rate ini, suku bunga SBN dan SRBI sudah lebih dulu naik, dan rupiah juga melemah. Kenaikan BI Rate ini lebih sebagai konfirmasi bahwa BI tetap konsisten menjaga stabilitas,” ujar David  pada Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik dan persepsi pasar terhadap fiskal nasional.

“Tanpa perubahan signifikan pada kondisi global dan domestik, pertumbuhan ekonomi kuartal II hingga IV 2026 akan berada di kisaran 4,9%–5,1%,” tambahnya.

David menyebut peluang kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin masih dapat terjadi hingga akhir 2026 apabila sejumlah risiko berlanjut.

Beberapa faktor tersebut antara lain ketegangan geopolitik global yang menjaga harga energi tetap tinggi, inflasi eksternal, serta perbedaan imbal hasil global.

Faktor lainnya adalah dampak fenomena El Niño terhadap inflasi pangan, serta depresiasi rupiah yang berdampak pada kenaikan harga barang impor.

Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, termasuk pemangkasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar Rp67 triliun serta efisiensi belanja kementerian/lembaga, dinilai dapat memperkuat ketahanan fiskal.

“Efisiensi anggaran MBG dan K/L itu positif untuk ketahanan fiskal dan pada akhirnya bisa mendukung stabilitas nilai tukar,” jelas David.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance, Ahmad Tauhid, menilai kenaikan suku bunga lebih bersifat jangka pendek dalam menopang rupiah.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.