Jakarta, Sinata.id — Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan tajam pasar global setelah mengalami penurunan tajam hampir 50% dari level rekor tertingginya beberapa bulan lalu. Turunnya harga aset kripto paling likuid di dunia ini memicu kekhawatiran investor dan pelaku pasar, terutama saat sebagian besar investor semula optimistis dengan tren kenaikan jangka panjang.
Data perdagangan terbaru yang dikutip pada Kamis (19/2/2026), menunjukkan Bitcoin tengah berjuang untuk bertahan di bawah kisaran USD 67.000 per koin, jauh dari puncak tertinggi di atas USD 125.000 pada Oktober 2025 yang sempat memecahkan rekor. Penurunan lebih dari hampir separuh nilainya sejak puncak tersebut menandai momentum koreksi terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Ahli pasar global dan analis mencatat beberapa faktor yang berkontribusi pada tekanan harga ini, terutama dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat (Federal Reserve atau The Fed) yang masih menimbulkan ketidakpastian bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Rilis notulen rapat The Fed menunjukkan sebagian pejabat masih bersikap hati-hati terhadap kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut, sehingga investor menjadi enggan mengambil risiko besar dan lebih memilih aset yang dianggap lebih aman.
Sikap hati-hati dari The Fed itu berimplikasi langsung pada selera risiko pasar secara keseluruhan. Ketika ekspektasi akan pelonggaran suku bunga tereduksi, permintaan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin cenderung turun karena investor beralih ke instrumen yang memberi imbal hasil lebih stabil. Kondisi ini diperparah oleh volatilitas tinggi di pasar saham teknologi dan arus keluar dana dari produk investasi kripto seperti ETF Bitcoin, yang turut memperbesar tekanan jual.
Selain itu, likuiditas global yang tidak terlalu longgar membuat beberapa pelaku pasar kripto merasa tidak ada cukup dukungan modal untuk mendorong reli harga baru.
Tak pelak, kondisi itu menciptakan siklus penjualan agresif (sell-off) yang menyebabkan Bitcoin jatuh dari puncaknya dan memaksa para investor, terutama yang memegang melalui produk ETF, untuk memotong posisi mereka demi mengurangi potensi kerugian lebih lanjut.
Gejolak ini mengingatkan pada pola pasar sebelumnya di mana Bitcoin juga mengalami penurunan tajam sebelum akhirnya menemukan titik dasar yang lebih kuat, meskipun kali ini tekanan datang dari faktor makroekonomi yang lebih kompleks dan melibatkan kebijakan suku bunga global.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.