MENU
Bitcoin Gagal Bertahan di US$90.000, Pasar Kripto Melemah Serentak
WA FB
News

Bitcoin Gagal Bertahan di US$90.000, Pasar Kripto Melemah Serentak

R Editor : Redaksi Sinata | 18 Dec 2025 | 17:28 WIB
Bitcoin Gagal Bertahan di US$90.000, Pasar Kripto Melemah Serentak
Bitcoin gagal bertahan di level psikologis US$90.000 setelah hanya sesaat menyentuh zona tersebut, sebelum akhirnya berbalik arah dan melemah. (Ilustrasi)

Sinata.id - Pasar kripto kembali dilanda gelombang tekanan jual. Bitcoin gagal bertahan di level psikologis US$90.000 setelah hanya sesaat menyentuh zona tersebut, sebelum akhirnya berbalik arah dan melemah signifikan pada pertengahan pekan Desember 2025.

Tekanan tersebut terjadi seiring derasnya arus keluar dana dari ETF Spot Bitcoin, yang dalam sepekan terakhir tercatat mencapai US$634 juta.

Kondisi ini langsung memangkas optimisme pelaku pasar yang sebelumnya berharap pada reli akhir tahun atau yang dikenal dengan istilah Santa Rally.

Hingga Kamis (18/12/2025) waktu Indonesia, harga Bitcoin bergerak terbatas di rentang US$85.973–US$86.124.

Level tersebut menandai melemahnya sentimen beli dan memudarnya harapan penguatan signifikan menjelang perayaan Natal.

Data pasar menunjukkan peluang Santa Rally tahun ini terbilang sangat kecil.

Berdasarkan pemantauan Myriad, potensi reli akhir tahun Bitcoin bahkan diperkirakan tidak sampai 4 persen.

Sementara itu, CoinGlass mencatat tekanan lanjutan datang dari pasar derivatif, di mana kontrak Bitcoin senilai US$155 juta terlikuidasi hanya dalam kurun 24 jam.

Gelombang pelemahan Bitcoin dengan cepat menjalar ke aset kripto lain.

Ethereum tercatat terkoreksi sekitar 4 persen dan bertengger di kisaran US$2.834. BNB dan XRP turut melemah masing-masing sekitar 3,5 persen dan 3 persen, sementara Dogecoin terkoreksi 4 persen ke level US$0,12.

Tekanan paling dalam dialami Cardano, yang anjlok hingga 4,6 persen dan diperdagangkan di sekitar US$0,36.

Melemahnya pasar aset digital tak lepas dari sorotan investor terhadap kondisi ekonomi global.

Salah satu pemicu utama datang dari Amerika Serikat, menyusul rilis data ketenagakerjaan terbaru yang menunjukkan tren kenaikan angka pengangguran ke level tertinggi sejak 2021.

Data tersebut memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dan mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju ke Bank of Japan yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat waktu setempat.

Potensi perubahan kebijakan moneter Jepang dinilai dapat memicu pembalikan arah carry trade yen, sebuah strategi yang selama ini menjadi salah satu sumber likuiditas global.

Secara historis, likuiditas dari carry trade kerap menjadi bahan bakar bagi kenaikan aset berisiko seperti Bitcoin dan saham.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.