Jakarta, Sinata.id - Buah kecapi mendadak menjadi perbincangan publik setelah sempat muncul dalam menu program makan bergizi gratis (MBG) di sejumlah sekolah.
Meski sempat menuai penolakan dari sebagian orang tua siswa, buah tropis ini sebenarnya telah lama dikenal masyarakat Asia Tenggara dan menyimpan berbagai manfaat kesehatan apabila dikonsumsi dalam kondisi segar dan layak makan.
Kecapi—yang juga dikenal dengan nama santol—merupakan buah yang umum ditemukan di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Buah ini memiliki kulit tebal yang harus dikupas atau dipotong sebelum dimakan.
Di dalamnya terdapat daging buah berwarna putih dengan tekstur lembut menyerupai kapas, yang memiliki cita rasa khas perpaduan manis dan asam.
Di sejumlah daerah, kecapi kerap muncul saat musim panen dan mudah ditemukan di pasar tradisional. Masyarakat biasanya menikmatinya secara langsung setelah dikupas, atau mengolahnya menjadi rujak, manisan, hingga campuran hidangan tradisional.
Selain rasanya yang segar, kecapi juga dikenal memiliki sejumlah kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Salah satu manfaat utamanya berasal dari kandungan serat yang cukup tinggi.
Serat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dengan memperlancar pergerakan usus serta membantu mengatasi gangguan seperti diare maupun sembelit.
Buah ini juga mengandung vitamin C yang berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh. Nutrisi tersebut membantu tubuh melawan infeksi ringan sekaligus mempercepat proses pemulihan ketika kondisi tubuh sedang menurun.
Di dalam kecapi juga terdapat senyawa antioksidan seperti quercetin yang berfungsi membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Kecapi juga memiliki indeks glikemik yang relatif rendah. Kombinasi ini, bersama kandungan seratnya, dapat membantu memperlambat penyerapan gula dalam darah sehingga dinilai bermanfaat bagi pengendalian kadar gula apabila dikonsumsi dalam porsi wajar.
Manfaat lainnya berkaitan dengan kesehatan jantung. Kandungan pektin—sejenis serat larut—dapat membantu mengikat kolesterol jahat atau LDL di dalam usus sehingga mengurangi penyerapannya ke dalam aliran darah.
Kadar LDL yang tinggi diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi, stroke, dan penyakit jantung.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.