Beijing, Sinata.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mengguncang peta perdagangan energi global. Di tengah ancaman gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran, China bergerak cepat mencari sumber alternatif, bahkan rela membayar lebih mahal demi memastikan pasokan energi tetap aman.
Dalam beberapa pekan terakhir, pembeli dari Negeri Tirai Bambu dilaporkan meningkatkan pembelian minyak mentah dari Kanada. Langkah ini muncul ketika risiko terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah semakin besar, terutama karena jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz berada dalam situasi rawan konflik.
Pasar merespons cepat. Harga minyak Kanada yang dikirim ke Asia kini bahkan memiliki keunggulan harga sekitar US$2 hingga US$3 dibandingkan sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh melonjaknya biaya sewa kapal tanker serta premi asuransi yang semakin mahal akibat meningkatnya risiko pelayaran di kawasan konflik.
Dikutip Rabu (11/3/2026), direktur pelaksana ATB Cormark Capital Markets, Patrick O’Rourke, menjelaskan bahwa lonjakan biaya logistik menjadi faktor utama perubahan harga. Menurutnya, premi pengiriman dan asuransi kini ikut membentuk harga minyak yang tiba di pasar Asia.
Lonjakan permintaan dari China juga terlihat dari aktivitas pengiriman. Dalam dua pekan terakhir, sedikitnya lima kapal tanker telah dipesan untuk mengangkut minyak mentah dari ladang Alberta, Kanada, menuju kilang-kilang di China.
Bahkan, minyak mentah berat Kanada yang dialirkan melalui pipa Trans Mountain sempat diperdagangkan dengan premium sekitar 80 sen terhadap harga Brent, untuk pertama kalinya sejak sistem penilaian harga tersebut diperkenalkan pada 2024.
Langkah agresif China ini tidak lepas dari struktur ketergantungan energinya. Negeri tersebut merupakan importir minyak terbesar di dunia dan selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran. Ketika konflik berpotensi mengganggu produksi maupun pengiriman, Beijing harus segera mencari sumber pasokan baru agar industri dan ekonominya tidak terganggu.
Sementara itu, perang di Timur Tengah telah mendorong harga minyak global melonjak tajam. Kekhawatiran terhadap gangguan produksi serta distribusi, terutama di jalur energi vital seperti Selat Hormuz, membuat harga minyak dunia sempat menembus level di atas US$100 per barel.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.