Dalam buku Muhammad Sang Nabi (2001), Karen Armstrong menulis bahwa Makkah menjadi simpul penting jaringan perdagangan antara Mediterania Timur, Eropa, dan China.
Keterangan ini membantu menjelaskan mengapa masyarakat Jazirah Arab telah mengenal China sejak abad ke-7. Dalam imajinasi orang Arab kala itu, China bahkan dipandang sebagai negeri terjauh yang diketahui manusia, jauh sebelum dunia mengenal Amerika dan Australia.
Hubungan langsung mulai terjalin pada 626 M, ketika Kaisar Taizong berkuasa. Dalam sejumlah catatan, Sahabat Nabi, Sa'ad bin Abi Waqqas, disebut melakukan perjalanan ke China atas perintah Khalifah Utsman bin Affan.
Riset A Brief History of Muslims in China (1983) karya Iqbal Shafi mencatat, kedatangan delegasi Muslim tersebut menjadi salah satu momen awal perjumpaan langsung masyarakat China dengan ajaran Islam.
Berabad-abad kemudian, lintasan sejarah itu menemukan babak baru. China modern kembali menegaskan posisinya di panggung global. Negara yang dahulu dikenal sebagai pusat peradaban kini menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan geopolitik terbesar di dunia.
Dalam beberapa dekade terakhir, China tumbuh sebagai pusat manufaktur global. Ia menjadi poros rantai pasok dunia, sekaligus pemain dominan di sektor teknologi, energi, dan industri strategis.
Produk-produknya membanjiri pasar internasional. Investasinya merambah lintas benua. Pengaruh ekonominya ikut membentuk ulang peta kekuatan global.
Ungkapan lama tentang menuntut ilmu hingga ke China pun terasa menemukan konteks baru. Bukan sekadar simbol kejayaan masa lalu, melainkan cermin dari sebuah negeri yang kembali berdiri sebagai raksasa dunia. (A18)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.