MENU
China–Korea Selatan Sepakat Pulihkan Hubungan Penuh
WA FB
Dunia

China–Korea Selatan Sepakat Pulihkan Hubungan Penuh

R Editor : Redaksi Sinata | 06 Jan 2026 | 01:28 WIB
China–Korea Selatan Sepakat Pulihkan Hubungan Penuh
Presiden China Xi Jinping menerima Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dalam pertemuan tingkat tinggi di Beijing, Senin (5/1/2026). (koreatimes.co)

Sinata.id - Beijing dan Seoul mengirim sinyal politik paling tegas dalam beberapa tahun terakhir: hubungan China–Korea Selatan diproyeksikan kembali ke jalur normal. Pesan itu mengemuka saat Presiden China Xi Jinping menerima Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dalam pertemuan tingkat tinggi di Beijing, Senin (5/1/2026). Ini adalah pertemuan kedua mereka dalam dua bulan—frekuensi yang jarang dan sarat makna di tengah lanskap geopolitik yang memanas.

Di hadapan delegasi kedua negara, Xi menekankan bahwa intensitas dialog mencerminkan bobot strategis hubungan Beijing–Seoul. Mengutip laporan Xinhua, Xi menilai kedua negara bertetangga ini memiliki kepentingan yang saling bertaut dan karenanya perlu memperkuat komunikasi, menjaga kepentingan inti masing-masing, serta mengelola perbedaan melalui dialog yang terukur.

“Hubungan ini harus berdiri di atas saling menghormati jalur pembangunan dan keprihatinan utama masing-masing,” ujar Xi, seraya mendorong penyelesaian friksi melalui konsultasi berkelanjutan.

Lee—presiden aktif Korea Selatan pertama yang berkunjung ke China sejak 2019—tiba di Beijing untuk lawatan empat hari yang juga mencakup Shanghai. Kunjungan ini merupakan balasan atas lawatan Xi ke Seoul pada akhir Oktober lalu, kunjungan pertama pemimpin China ke Korsel dalam 11 tahun. Di meja perundingan, Lee menyampaikan harapan membuka babak baru relasi bilateral. “Saya berharap kita memulai era baru hubungan Korea Selatan–China. KTT ini peluang penting untuk menjadikan 2026 sebagai tahun pemulihan penuh,” kata Lee.

Pertemuan berlangsung di tengah tekanan global. Beberapa hari sebelumnya, Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Dari kawasan sekitar, Korea Utara menembakkan rudal hipersonik tepat saat pesawat Lee mendarat—sebuah pengingat langsung atas risiko keamanan yang dihadapi Seoul. Lee pun mendorong peran Beijing dalam menjaga stabilitas Semenanjung Korea. “Perdamaian adalah fondasi kemakmuran dan pertumbuhan. Kolaborasi kita krusial,” tegasnya.

Bayang-bayang Jepang dan Taiwan
Agenda Lee juga bersinggungan dengan memburuknya hubungan China–Jepang, menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengisyaratkan kesiapan militer Tokyo jika terjadi konflik Taiwan. Xi menyinggung sejarah perlawanan terhadap militerisme Jepang delapan dekade lalu dan mengajak Seoul “bergandengan tangan menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II serta perdamaian Asia Timur Laut.”

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.