Terkait Taiwan, Lee kembali menegaskan penghormatan Seoul terhadap kebijakan “Satu China”.
Ekonomi dan budaya jadi pengungkit
Di luar isu keamanan, Lee membidik normalisasi ekonomi yang konkret. Ia mendorong pencabutan pembatasan informal China terhadap konten budaya Korea serta memperluas kerja sama di AI, barang konsumsi, dan industri kreatif—sektor yang dinilai mampu mengerek perdagangan bilateral yang tertahan di kisaran US$300 miliar. “Menjelajah rute dan pasar baru adalah keniscayaan,” kata Lee, menyebut kosmetik, film, musik, dan gim sebagai motor pertumbuhan berikutnya.
Sejumlah konglomerat besar mendampingi Lee, termasuk Jay Y. Lee dari Samsung Electronics, Chey Tae-won dari SK Group, serta Euisun Chung dari Hyundai Motor Group. Hasilnya, kedua negara menandatangani 14 nota kesepahaman dan sepakat membuka kanal dialog perdagangan tingkat menteri mulai paruh pertama tahun ini.
Sejak dilantik pada Juni 2025, Lee dikenal mengusung diplomasi yang lebih seimbang dibanding pendahulunya, Yoon Suk-yeol, yang menekankan poros Washington. Namun, status Seoul sebagai sekutu AS tetap menjadi batas alami bagi manuver mendekat ke Beijing.
Lawatan Lee—yang berakhir Rabu—juga mencakup pertemuan dengan Perdana Menteri China Li Qiang serta kunjungan simbolik ke Shanghai, termasuk ke gedung bersejarah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Korea di pengasingan pada masa penjajahan Jepang. Sinyalnya jelas: pemulihan hubungan tak berhenti pada retorika, tetapi diarahkan pada stabilitas kawasan dan hasil ekonomi yang terukur. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.