Jakarta, Sinata.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah beredar video keluhan dari pengelola dapur program tersebut di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Para mitra pelaksana mengaku kewalahan karena petunjuk teknis (juknis) dari pusat disebut sering datang secara mendadak, sementara bahan baku makanan sudah lebih dulu dibeli dan memiliki masa kedaluwarsa.
Keluhan itu disampaikan oleh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bener dan Loano. Melalui unggahan di media sosial, mereka menyuarakan keresahan terkait perubahan aturan yang datang tanpa jeda waktu yang cukup untuk menyesuaikan perencanaan menu makanan bagi penerima manfaat program.
Dalam salah satu unggahan, pihak pengelola menilai instruksi baru dari Badan Gizi Nasional (BGN) kerap muncul tiba-tiba sehingga memaksa dapur mengubah rencana menu yang sudah disusun sebelumnya.
“Perintah-perintah berupa petunjuk teknis atau surat edaran sangat amat sering diberikan secara mendadak,” tulis pengelola melalui akun media sosial resmi SPPG, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Mereka menjelaskan bahwa perubahan aturan yang datang mendekati jadwal distribusi makanan membuat pengadaan bahan baku menjadi rumit. Bahan yang telah dipesan sebelumnya terkadang tidak lagi sesuai dengan menu baru yang ditetapkan, sementara bahan tersebut memiliki batas waktu penyimpanan.
Salah satu keluhan bahkan menyebut juknis terbaru pernah muncul hanya dua hari sebelum pembagian makanan. Kondisi itu memaksa tim dapur menyusun ulang menu hingga tengah malam agar tetap bisa menyesuaikan dengan ketentuan terbaru.
Para pengelola juga mengaku kesulitan menyampaikan aspirasi secara langsung karena forum koordinasi yang tersedia dinilai lebih bersifat penyampaian materi satu arah.
“Mohon maaf kami sebagai mitra atau yayasan harus menyampaikan melalui akun official SPPG, karena biasanya untuk zoom bentuknya hanya webinar, bukan ruang diskusi,” tulis mereka dalam unggahan tersebut.
Curhatan dari dapur MBG di Purworejo itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu beragam respons warganet. Sebagian menilai keluhan tersebut menjadi gambaran tantangan nyata di lapangan dalam menjalankan program pemenuhan gizi skala besar.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.