MENU
Dana Negara ‘Menganggur’ Rp270 Triliun di BI, Kemenkeu Cermati “Darah”...
WA FB
News

Dana Negara ‘Menganggur’ Rp270 Triliun di BI, Kemenkeu Cermati “Darah” Operasional Negara

R Editor : Redaksi Sinata | 13 Oct 2025 | 15:47 WIB
Dana Negara ‘Menganggur’ Rp270 Triliun di BI, Kemenkeu Cermati “Darah” Operasional Negara
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu. (Ist)

Dana Menganggur Siap Digerakkan ke Perbankan

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa masih ada dana besar yang “parkir” di Bank Indonesia. Jumlahnya mencapai Rp270 triliun.

“Masih ada sekitar Rp270 triliun di BI. Jadi, uang saya cukup banyak,” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Rabu lalu (8/10/2025).

Namun, Purbaya menegaskan dana itu tidak akan diam terlalu lama. Pemerintah siap menggerakkannya untuk menambah likuiditas perbankan nasional, terutama agar dana tersebut bisa berputar kembali dalam bentuk kredit ke sektor riil.

“Kalau nanti dibutuhkan untuk menambah likuiditas, kita keluarkan saja sebagian. Sekitar Rp100 triliun itu masih bisa kita pakai,” katanya.

Suntikan untuk Bank Daerah dan Himbara

Kebijakan penyaluran likuiditas bukan hal baru bagi pemerintah. Sebelumnya, dana pemerintah juga sempat disalurkan ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menjaga peredaran uang tetap aktif di pasar.

Kini, Purbaya menyebut, langkah serupa berpotensi dilakukan untuk Bank DKI Jakarta dan Bank Jatim, dengan total suntikan mencapai Rp20 triliun.

“Kalau Rp5 sampai Rp10 triliun per bank, dua bank ya total sekitar Rp20 triliun,” jelasnya di Kantor Kemenkeu, Selasa lalu (7/10/2025).

Menariknya, Purbaya mengaku tidak khawatir uang pemerintah akan “tertidur” di bank-bank daerah tersebut. Ia menilai baik Bank DKI maupun Bank Jatim memiliki kekuatan likuiditas dan permintaan kredit yang tinggi.

“Bank DKI kuat uangnya, Jawa Timur juga sama. Permintaannya tinggi dan mereka punya kapasitas. Jadi saya nggak khawatir,” tegasnya.

Langkah evaluasi ini menandai arah baru kebijakan fiskal Indonesia: dari menimbun cadangan besar ke pendekatan yang lebih aktif dan produktif.

Dengan ekonomi yang mulai stabil pascapandemi dan pasar keuangan yang semakin dalam, pemerintah tampak siap meninggalkan pola “main aman” dan beralih pada strategi pengelolaan kas yang lebih dinamis, memanfaatkan momentum untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dari sisi riil.

Seperti diungkap Febrio, “Tantangannya bukan sekadar menjaga uang negara tetap aman, tapi bagaimana uang itu bekerja untuk rakyat.” [zainal/a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.