Canberra, Sinata.id - Australia mengancam akan memblokir akses terhadap layanan kecerdasan buatan (AI) yang gagal membatasi penggunaan oleh anak di bawah umur, hanya sepekan sebelum regulasi baru yang ketat mulai berlaku pada 9 Maret 2026.
Langkah ini merupakan perluasan dari kebijakan pelarangan media sosial bagi remaja yang sebelumnya telah diterapkan, dan menjadikan Australia sebagai salah satu negara dengan pengawasan paling agresif terhadap industri AI global.
Berdasarkan tinjauan Reuters terhadap 50 produk AI berbasis teks terpopuler, ditemukan bahwa hanya sembilan platform yang telah menerapkan atau mengumumkan rencana sistem verifikasi usia.
Sebanyak 11 platform lainnya memilih untuk menerapkan filter konten menyeluruh atau berencana memblokir seluruh pengguna Australia sebagai cara memenuhi aturan. Namun, masih ada 30 platform yang belum menunjukkan langkah konkret untuk patuh.
Komisioner lembaga keselamatan daring Australia, eSafety Commissioner, menyatakan pihaknya tidak akan segan menggunakan seluruh kewenangan yang dimiliki untuk menindak tegas pelanggaran. "Kami akan mengambil tindakan terhadap mesin pencari atau toko aplikasi yang menjadi pintu akses utama jika terjadi ketidakpatuhan," demikian pernyataan resmi eSafety.
Aturan yang mulai berlaku pekan depan ini mewajibkan seluruh layanan internet di Australia, termasuk alat pencarian berbasis AI seperti ChatGPT, chatbot pendamping, dan sejenisnya, untuk membatasi akses pengguna di bawah 18 tahun terhadap konten berbahaya.
Baca: http://Infrastruktur Amazon di Timur Tengah Lumpuh Akibat Serangan Drone Iran
Konten yang dilarang mencakup pornografi, kekerasan ekstrem, konten menyakiti diri sendiri, dan gangguan makan.
Perusahaan yang terbukti melanggar menghadapi denda hingga 49,5 juta dolar Australia atau setara Rp 591 miliar.
Kekhawatiran regulator muncul setelah berbagai insiden yang melibatkan AI dan pengguna muda. OpenAI dan startup chatbot pendamping Character.AI saat ini menghadapi gugatan hukum terkait kematian yang salah (wrongful death) yang melibatkan interaksi dengan pengguna remaja.
Dalam kasus terpisah, OpenAI pekan ini mengakui telah menonaktifkan akun ChatGPT milik seorang remaja tersangka penembakan massal di Kanada beberapa bulan sebelum insiden, meskipun tanpa memberitahu pihak berwenang.
Meski Australia belum mencatat kasus serupa, regulator melaporkan data anak-anak berusia 10 tahun diketahui berinteraksi dengan alat AI interaktif hingga enam jam per hari.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.