MENU
Distribusi MBG Telat Datang, Guru di Semarang Curhat: “Yang Jadi Relaw...
WA FB
News

Distribusi MBG Telat Datang, Guru di Semarang Curhat: “Yang Jadi Relawan Justru Guru”

R Editor : Redaksi Sinata | 16 Mar 2026 | 19:35 WIB
Distribusi MBG Telat Datang, Guru di Semarang Curhat: “Yang Jadi Relawan Justru Guru”
Guru di Semarang curhat soal tugas tambahan guru saat SPPG datang untuk bagikan MBG. (Instagram/stevano.96)

Semarang, Sinata.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan gizi siswa kini kembali menjadi sorotan. Bukan soal menu, tetapi masalah distribusi yang kerap terlambat sampai ke sekolah.

Seorang guru di Semarang bahkan mengungkapkan pengalaman langsung ketika pengiriman makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) datang melewati waktu kegiatan belajar, membuat guru dan siswa harus menunggu lebih lama dari jadwal seharusnya.

Curahan hati tersebut viral di media sosial setelah diunggah oleh seorang guru sekaligus kreator konten bernama David Stevano melalui akun Instagram pribadinya.

Dalam video berdurasi sekitar satu menit, David menceritakan situasi yang sering terjadi ketika paket MBG terlambat tiba di sekolah.

Ia menjelaskan bahwa guru bukan hanya mengajar, tetapi juga ikut mengurus logistik makanan yang datang dari SPPG. Mulai dari menerima paket, membagikan kepada siswa, hingga mengumpulkan kembali kemasan setelah makanan selesai dibagikan.

“Dikira guru nggak kerepotan? Udah nggak dapat upah SPPG, nambah lagi bebannya,” tulis David dalam unggahannya, dikutip Senin (16/3/2026).

Keluhan tersebut muncul sebagai respons atas sejumlah laporan di media sosial yang menyoroti keterlambatan distribusi makanan dalam program MBG.

Menurut David, keterlambatan pengiriman makanan sering kali membuat sekolah berada dalam posisi sulit.

Saat makanan datang melewati jam kegiatan sekolah, para siswa yang seharusnya sudah pulang harus ditahan lebih dulu agar pembagian MBG bisa tetap dilakukan.

Ia mengaku situasi seperti itu pernah dialami di sekolahnya.

Guru pun akhirnya harus menjalankan berbagai tugas tambahan yang sebenarnya berada di luar kewajiban utama mereka sebagai tenaga pendidik.

“Kasus seperti ini pernah kami alami. Jadi relawan sesungguhnya itu guru, karena kita yang menerima MBG, membagikan, sampai mengumpulkan kantongnya, dan itu tidak dibayar,” ujarnya.

Masalah distribusi MBG bukan hanya terjadi di satu daerah. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah laporan serupa muncul dari berbagai wilayah.

Ada kasus siswa harus menunggu lama hingga malam hari untuk menerima paket makanan, bahkan ada yang baru datang setelah jam sekolah selesai.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.