Seorang pengguna dengan nama akun Maria menulis, “Ketika rakyat merasa bendera Merah Putih hanya dikibarkan secara seremonial tanpa substansi keadilan, maka simbol itu kehilangan makna sakralnya di mata generasi muda.”
Kritik serupa juga bermunculan dari akun-akun lain yang menyoroti absennya perlawanan nyata dari para pemimpin terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.
Generasi Z dan milenial — kelompok usia paling aktif di ruang digital — tampak menjadi penggerak utama di balik fenomena ini. Bagi mereka, bendera bajak laut fiksi tak sekadar elemen hiburan, melainkan bentuk simbolik dari aspirasi dan keresahan terhadap sistem yang dirasa semakin timpang.
Seorang pengguna dengan nama Arjuna menyampaikan dalam komentarnya, “Di One Piece, semua karakter berjuang karena mereka tahu sistem dunia itu korup. Kalau di Indonesia, kita juga tahu, tapi suara rakyat sering diabaikan. Maka, kami menggunakan simbol fiksi untuk bersuara.”
Tak jarang pula, kutipan dari Pancasila, terutama sila kelima, disisipkan dalam unggahan warganet sebagai bentuk sindiran tajam terhadap realitas yang terjadi. Salah satu komentar yang mendapat ratusan tanda suka menuliskan: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi nyatanya, yang adil hanya untuk segelintir.” (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.