MENU
Dunia Kehilangan Sosok Bapa, Ini Seruan Pertobatan di Akhir Zaman
WA FB
Religi

Dunia Kehilangan Sosok Bapa, Ini Seruan Pertobatan di Akhir Zaman

F Editor : Ferry SP Sinamo | 03 Mar 2026 | 03:07 WIB
Dunia Kehilangan Sosok Bapa, Ini Seruan Pertobatan di Akhir Zaman
Pastor Dion Panomban

Oleh: Pastor Dion Panomban 

Fenomena kerusakan moral yang terjadi di berbagai sektor kehidupan dinilai tidak lepas dari krisis figur bapa dalam keluarga. Dalam perenungan Saat Teduh Abba Home Family, Selasa, 3 Maret 2026, disampaikan bahwa ketika dunia kehilangan gambaran tentang seorang bapa, dampaknya merambat luas hingga merusak tatanan kehidupan.

Nabi Kitab Maleakhi telah mengingatkan bahwa tanpa pemulihan hati, bumi dapat mengalami kehancuran. Kerusakan itu tidak selalu dimaknai secara fisik, tetapi tampak dalam berbagai segmen kehidupan: dunia pendidikan, peradilan, olahraga, sosial, bisnis, bahkan gereja. Akar persoalannya dinilai terletak pada kepemimpinan yang lahir dari hati dan jiwa yang terluka, akibat relasi keluarga yang tidak sehat.

Dalam Perjanjian Baru, Injil Lukas menegaskan tentang roh atau urapan Elia yang diberikan untuk memulihkan hati—mengembalikan hati orang-orang durhaka kepada kebenaran serta menyiapkan umat yang layak bagi Tuhan di akhir zaman. Pesan ini menjadi panggilan reflektif: apakah setiap pribadi bersedia dipulihkan, bertobat, dan berjalan di jalan yang ditunjukkan Allah?

 Dasar Pembacaan: Ibrani 12:6–11 

Surat Ibrani 12:6–11 (TB) menegaskan bahwa Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan menyesah setiap anak yang diakui-Nya. Didikan itu bukan tanda penolakan, melainkan bukti pengakuan sebagai anak. Ayat 7 menekankan bahwa ganjaran adalah bagian dari relasi seorang ayah dengan anaknya.

Lebih jauh, ayat 9 mengingatkan bahwa jika kepada ayah duniawi saja manusia menunjukkan hormat, maka seharusnya ketaatan kepada Bapa segala roh menjadi sikap utama agar memperoleh kehidupan. Ayat 10 membedakan didikan manusia yang terbatas waktu dan pertimbangan, dengan didikan Tuhan yang bertujuan membawa umat-Nya kepada kekudusan. Sementara ayat 11 mengakui bahwa ganjaran pada awalnya mendatangkan dukacita, tetapi pada akhirnya menghasilkan buah kebenaran dan damai sejahtera bagi mereka yang dilatih olehnya.

 Pertanyaan Perenungan 

Dalam sesi refleksi, jemaat diajak menjawab sejumlah pertanyaan mendasar:

1. Pernahkah mengalami hajaran Tuhan sebagaimana tertulis pada ayat 6?

2. Bagaimana pengalaman tersebut terjadi dalam kehidupan pribadi?

3. Apa makna ayat 7 tentang ganjaran sebagai tanda keanak-anakan?

4. Mengapa ketaatan tetap diperlukan saat menghadapi ganjaran (ayat 9)?

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.