Sementara dari dalam negeri, pasar melihat adanya tantangan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter.
“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Fakhrul menilai langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi sinyal penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas pasar.
Menurutnya, pendekatan yang lebih pre-emptive dan ahead the curve diperlukan agar tekanan terhadap nilai tukar tidak berlangsung berkepanjangan dan merambat ke sektor ekonomi lainnya.
“Kadang bank sentral harus bertindak sebelum inflasi benar-benar muncul,” ujarnya.
Meski begitu, ia menekankan bahwa stabilisasi rupiah tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada Bank Indonesia.
Yang dibutuhkan saat ini adalah balanced policy mix atau koordinasi kebijakan yang lebih seimbang antara fiskal dan moneter.
Pasar, kata Fakhrul, ingin melihat pemerintah dan bank sentral bergerak dalam arah yang sama melalui komunikasi kebijakan yang kuat serta roadmap penyesuaian ekonomi yang jelas.
“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” jelasnya.
Tekanan terhadap nilai tukar dan tingginya yield obligasi, lanjut Fakhrul, mulai memberi dampak terhadap sektor riil.
Banyak industri manufaktur dan sektor domestik masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, serta pembiayaan.
Ketika rupiah melemah bersamaan dengan tingginya biaya dana, dunia usaha menghadapi tekanan ganda.
“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” katanya.
Meski demikian, dampak pelemahan rupiah dinilai tidak seragam. Sektor komoditas berbasis ekspor cenderung lebih diuntungkan karena pendapatannya berbasis dolar AS.
Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, memiliki leverage tinggi, dan sensitif terhadap bunga menghadapi tekanan lebih besar.
Fakhrul menilai dunia usaha perlu mengedepankan strategi defensif dengan menjaga likuiditas, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi ketergantungan terhadap utang valuta asing di tengah tingginya volatilitas pasar.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.